Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

√ Biografi, Kisah, Sejarah, Pemikiran Filsafat Al Farabi

6 min read

biografi al farabi

Biografi Al Farabi- Al Farabi merupakan salah satu ilmuwan Islam, beliau juga dikenal sebagai, fisikawan, kimiawan, filsuf, ahli ilmu logika, ilmu jiwa, metafisika, politik, musik, dll.

Nah, untuk mengetahui biografi dan sejarah kisah dari Al Farabi, mari kita simak pembahasan di bawah ini.

Biografi Singkat Al Farabi

biografi singkat al farabi
bloganaksaleh.blogspot.com
NamaAbu Nasr Muhammad bin Muhammad Ibnu Turkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi
DikenalAl Farabi, Abu Nashr, Avennaser
LahirFarab, Uzbekistan 259 H/897 M
WafatAleppo 339 H/950 M
JulukanAl Farabi
Karya Yang TerkenalAl banah al-Ibānah ‘an Ghardh Aristhū fī Kitāb Mā Ba’da al-Thabī’ah

Biografi Sejarah Al Farabi

biografi sejarah al farabi
pixabay.com

Al-Farabi merupakan julukan bagi Abu Nasr Ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh. Al-Farabi dilahirkan di sebuah desa bernama Wasij yang merupakan distrik dari kota Farab. Saat ini kota Farab dikenal dengan nama kota Atrar/Transoxiana tahun 257 H/870 M.

Al-Farabi oleh orang-orang latin abad tengah dijuluki dengan Abu Nashr (Abunaser), sedangkan julukan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, tempat ia dilahirkan.Ayahnya adalah seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki.

Sejak dini, Al-Farabi dikenal sebagai anak yang suka belajar dan juga rajin serta ia memiliki kemampuan untuk menguasai berbagai bahasa, antara lain bahasa Iran, Turkestan, dan Kurdistan.

Bahkan menurut Munawir Sjadzali, Al-Farabi dapat berbicara dalam tujuh puluh macam bahasa, tetapi yang ia kuasai dengan aktif, hanya empat bahasa: Arab, Persia, Turki, dan Kurdi.

Di usia muda, Al-Farabi hijrah ke Baghdad yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan. Di Baghdad ia belajar kepada Abu Bakar Al-Saraj untuk mempelajari kaidah bahasa Arab, dan kepada Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus (seorang kristen) untuk belajar logika dan filsafat.

Selanjutnya ia hijrah ke Harran yang merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia Kecil dan belajar kepada Yuhanna ibnu Jailan. Kemudian, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam filsafat.

Al-Farabi mendapat predikat Guru Kedua, karena ialah orang pertama yang memasukkan ilmu logika ke dalam kebudayaan Arab. Selanjutnya ia pindah ke Damaskus, di sana ia berkenalan dengan Saif Ad-Daulah Al-Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Alleppo.

Akhirnya Al-Farabi diberi kedudukan menjadi ulama istana. Ia hidup sederhana dan menggunakan gajinya untuk beramal dan dibagikan kepada fakir miskin di Alleppo dan Damaskus. Al-Farabi wafat pada usia 80 tahun di Alleppo tahun 950 M.

Karya-Karya Al-Farabi

karya al farabi
pixabay.com

Setelah membahas biografi dari al farabi, kita akan membahas tentang karya dari Al Farabi.

Al-Farabi merupakan filsuf Islam terbesar, ia memiliki keahlian di berbagai bidang, di antaranya adalah ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, militer, musik, ilmu alam, ketuhanan, fiqh, dan mantiq.

Tetapi, sayangnya tidak banyak karya dari Al-Farabi yang diketahui, karena karyanya berupa risalah yang merupakan karangan pendek dan tidak banyak yang berupa buku besar yang pembahasannya mendalam, kebanyakan karyanya telah hilang. Adapun judul dari karya-karyanya sebagai berikut:

  • Al-Jam’u baina Ra’yay Al-Hakimain Aflathun wa Aristhu;
  • Tahqiq Ghardh Aristhu fi Kitab ma Ba’da Ath-Thabi’ah;
  • Syarah Risalah Zainun Al-Kabir Al-Yunani;
  • At-Ta’liqat;
  • Risalah fima Yajibu Ma’rifat Qabla Ta’allumi al-Falsafah
  • Kitab Tahshil As-Sa’adah
  • Risalah fi Itsbat Al-Mufaraqah
  • ‘Uyun Al-Masa‘il
  • Ara’ Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah
  • Ihsa Al-Ulum wa At-Ta’rif bi Aghradita
  • Maqalat fi Ma’ani Al-Aql
  • Fushul Al-Hukm
  • Risalat Al-Aql
  • As-Siyasah Al-Madaniyah
  • Al-Masa’il Al-Falsafiyah wa Al-Ajwibah Anha

Ciri khas dari karya-karya Al-Farabi adalah memberi ulasan dan juga penjelasan terhadap karya dari Aristoteles, Iskandar Al Fraudismy dan Plotinus. Karya nyata dari Al-Farabi sebagai berikut:

  • Al jami’u Baina Ra’yai Al Hakimain Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (pertemuan/penggabungan pendapat antara Plato dan Aristoteles);
  • Tahsilu as Sa’adah (mencari kebahagiaan);
  • As Suyasatu Al Madinah (politik pemerintah);
  • Fususu Al Taram (hakikat kebenaran);
  • Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (pemikiran-pemikiran utama pemerintah);
  • As Syisyah (ilmu politik);
  • Ihsho’u Al Ulum (kumpulan berbagai ilmu), dll.

Hasil Pemikiran Filsafat Al-Farabi

hasil pemikiran al farabi
pixabay.com

Pemikiran Filsafat Al-Farabi memiliki corak dan tujuan yang berbeda dari filsafat lainnya karena ia mengambil ajaran-ajaran para filosof terdahulu, membangun kembali dalam bentuk yang sesuai dengan lingkup kebudayaan, dan menyusunnya dengan sistematis dan selaras.

Namun, sebagian filsafat Al-Farabi ini dianggap keliru sehingga ditolak oleh ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi, Al-Farabi tetap memiliki peranan yang penting dan pengaruh yang besar di bidang pemikiran masa-masa sesudahnya.

Berikut ini adalah beberapa pemikiran filsafat Al-Farabi:

Filsafat Al Farabi

filsafat al farabi
pixabay.com

Al-Farabi mengartikan filsafat sebagai Al Ilmu bilmaujudaat bima Hiya Al Maujudaat yang artinya adalah suatu ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada ini. Ia berhasil meletakkan dasar-dasar filsafat ke dalam Islam.

Al Farabi juga mengatakan bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat Plato dan Aristoteles. Al-Farabi mempunyai dasar berfilsafat dengan memperdalam ilmu dengan segala yang maujud hingga membawa pengenalan Allah sebagai penciptanya.

Falsafat Kenabian Al Farabi

filsafat kenabian al farabi
pixabay.com

Akal yang sepuluh itu dapat disamakan dengan para malaikat dalam ajaran Islam. Para filosof dapat mengetahui hakekat-hakekat karena dapat berkomunikasi dengan akal Kesepuluh. Nabi atau Rasul pun dapat menerima wahyu karena mempunyai kesanggupan untuk berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh. Akan tetapi kedudukan Nabi atau Rasul lebih tinggi dari para filosof.

Para filosof dapat berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh karena usahanya sendiri yaitu dengan latihan dan kontemplasi, sedangkan Nabi atau Rasul adalah orang pilihan, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh bukan atas usaha sendiri tetapi atas pemberian dari Tuhan.

Para filosof mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh melalui akal, yaitu akal mustafad, sedangkan Nabi atau Rasul bukan dengan akal, tetapi dengan daya pengetahuan yang disebut imajinasi.

Tingkat imajinasi yang diberikan kepada Nabi atau Rasul sangat kuat sehingga dapat berhubungan dengan Akal Kesepuluh tanpa latihan yang harus dijalani para filosof.

Falsafat ini dimajukan Al-Farabi untuk menentang aliran yang tidak percaya kepada Nabi/Rasul (wahyu) seperti yang dibawa oleh al-Razi dan lain-lain di zaman itu. Teori tentang kenabian ini dapat dianggap sebagai usaha al-Farabi dalam merujukkan agama dengan filsafat.

Teori Politik Al Farabi

teori politik al farabi
pixabay.com

Falsafat Kenabian berhubungan erat dengan teori politik Al-Farabi. Ia telah menulis beberapa risalah tentang politik, yang paling terkenal adalah Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Kota Model).

Di dalam risalah tersebut ia menggambarkan Kota sebagai suatu keseluruhan dari bagian-bagian yang terpadu, serupa dengan organisme tubuh, bila ada bagian yang sakit, maka yang lain akan bereaksi dan menjaganya.

Dalam kota, masing-masing anggota harus diberikan pekerjaan yang sepadan dengan kesanggupannya. Pekerjaan yang terpenting dalam masyarakat adalah pekerjaan sebagai kepala masyarakat, sehingga seorang kepala masyarakat harus bertubuh sehat dan kuat, pintar, cinta pada ilmu pengetahuan dan keadilan karena kepala lah yang menjadi sumber keharmonisan masyarakat.

Sebaik-baik kepala adalah Nabi/Rasul, karena seorang Nabi/Rasul tentu mengadakan peraturan-peraturan yang baik dan berfaedah bagi masyarakat sehingga masyarakat menjadi makmur dan baik.

Tugas kepala Negara tidak hanya mengatur Negara, tetapi juga mendidik manusia mempunyai akhlak yang baik.

Selain al-Madinah al-Fadilah juga ada al-Madinah al-Jahilah, yaitu masyarakat yang anggota-anggotanya bertujuan hanya mencari kesenangan jasmani.

Kemudian ada al-Madinah al-Fasiqah yaitu masyarakat yang anggota-anggotanya mempunyai pengetahuan yang sama dengan anggota al-Madinah al-Fadilah akan tetapi kelakuan mereka sama dengan anggota al-Madinah al-Jahilah.

Jiwa yang kekal adalah jiwa fadilah (mungkin tinggal di madinah al-Fadilah) yaitu jiwa-jiwa yang berbuat baik, jiwa-jiwa yang dapat melepaskan diri dari ikatan jamsmani, oleh karena itu tidak hancur dengan hancurnya badan.

Adapun jiwa Jahilah adalah jiwa yang tidak mencapai kesempurnaan, (mungkin yang hidup di madinah al-Jahilah), jiwa yang belum dapat meepaskan diri dari ikatan materi dan akan hancur dengan hancurnya badan.

Jiwa Fasiqah adalah jiwa yang tahu pada kesenangan tapi menolaknya (mungkin yang hidup dalam Madinah al-Fasiqah), tidak akan hancur dan akan kekal, akan tetapi kekal dalam kesengsaraan. Adapun surga dan Negara menurut Al-Farabi adalah soal spiritual.

Al Farabi Sang Aristoteles 2

al farabi sang aristoteles 2
pixabay.com

Digelari Aristoteles kedua. Tulisan ahli filsafat Yunani seperti Plato dan Aristotle mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemikiran ahli filsafat Islam. Salah seorang ahli filsafat Islam yang terpengaruh dengan pemikiran kedua tokoh tersebut ialah Al-Farabi.

Al-Farabi terdidik dengan sifat Qanaah menjadikan beliau seorang yang amat sederhana, tidak gila harta  dan cinta dunia. Beliau lebih menumpukan perhatian untuk mencari ilmu untuk mendapatkan kekayaan duniawi.

Karena itulah Al-Farabi hidup dalam keadaan yang miskin sehingga beliau menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 950M (339H).

Walaupun Al-Farabi merupakan seorang yang zuhud tetapi beliau bukan seorang ahli sufi. Beliau merupakan seorang ilmuwan yang cukup terkenal pada zamannya. Dia berkemampuan menguasai berbagai bahasa.

Kemampuan Al-Farabi bukan sekadar itu, malah beliau juga memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam dalam bidang pengobatan, sains, matematika, dan sejarah. Namun, keterampilannya sebagai seorang ilmuwan yang terulung lebih dalam bidang filsafat.

Bahkan kehebatannya dalam bidang ini bisa disamakan oleh Ibnu Sina dan mengungguli ahli filsafat Islam yang lain seperti Al-Kindi dan Ibnu Rusyd.

Dalam membicarakan teori politiknya, beliau berpendapat bahwa akal dan wahyu adalah satu hakikat yang padu. Sebarang percobaan dan usaha untuk memisahkan kedua elemen tersebut  akan  melahirkan  sebuah  negara  yang  pincang  serta

masyarakat yang kacau-balau. Oleh itu, akal dan wahyu perlu dijadikan sebagai dasar pembinaan sebuah negara yang kuat, stabil serta makmur.

Al-Farabi banyak mengkaji mengenai filsafat dan teori Socrates, Plato, dan Aristoteles dalam usahanya untuk menghasilkan teori serta konsep mengenai kebahagiaan.

Maka tidak heranlah, Al-Farabi dikenal sebagai orang yang paling memahami filsafat Aristoteles. Dia juga merupakan orang yang pertama menulis mengenai ilmu logika Yunani secara sistematis dalam bahasa Arab.

Meskipun  pemikiran  filsafatnya  banyak  dipengaruhi  oleh  filsafat  Yunani  tetapi beliau menentang pendapat Plato yang menganjurkan konsep pemisahan dalam kehidupan manusia.

Pandangan Filsafat Al Farabi

pandangan filsafat al farabi
pixabay.com

Menurut Al-Farabi, seorang ahli filsafat tidak seharusnya memisahkan dirinya dari sains dan politlk. Sebaliknya perlu menguasai keduanya untuk menjadi seorang ahli filsafat yang sempurna.

Tanpa sains, seorang ahli filsafat tidak mempunyai cukup peralatan untuk dieksploitasikan untuk kepentingan orang lain. Justru, seorang ahli filsafat yang tulen tidak akan merasa sebarang perbedaan di antaranya dengan pemerintah yang tertinggi kerana keduanya merupakan komponen yang saling lengkap melengkapi.

Dalam hal ini beliau mencadangkan agar diwujudkan sebuah negara kebajikan yang diketuai oleh ahli filsafat.

Pandangan filsafatnya yang kritikal telah meletakkannya sebaris dengan ahli filsafat Yunani yang lain. Dalam kalangan ahli filsafat Islam, beliau juga dikenal sebagai Aristoteles kedua.

Bagi Al-Farabi, ilmu segala-galanya dan para ilmuwan harus diletakkan pada kedudukan yang tertinggi dalam pemerintahan sebuah negara.

Pandangan Al-Farabi  ini  sebenarnya  mempunyai  persamaan  dengan  filsafat  dan ajaran Confucius yang meletakkan golongan ilmuwan pada tingkat hierarki yang tertinggi di dalam sistem sosial sebuah negara.

Di samping itu, Al-Farabi juga mengemukakan banyak pandangan yang mendahului zamannya. Diantaranya beliau menyatakan bahwa keadilan itu merupakan sifat asli manusia, manakala pertarungan yang terjadi antara manusia merupakan gejala sifat asli  tersebut.

Sebagai seorang ilmuwan yang tulen, Al-Farabi turut memperlihatkan kecenderungannya menghasilkan beberapa kajian dalam bidang pengobatan.

Walaupun kajiannya dalam bidang ini tidak menjadikannya masyhur tetapi pandangannya telah memberikan   sumbangan   yang   cukup   bermakna   terhadap   perkembangan   ilmu pengobatan di zamannya.

Salah satu pandangannya yang menarik ialah mengenai betapa jantung adalah lebih penting dibanding otak dalam kehidupan manusia. Ini disebabkan jantung memberikan kehangatan kepada tubuh sedangkan otak hanya menyelaraskan kehangatan itu menurut keperluan anggota tubuh badan.

Sesungguhnya Al-Farabi merupakan seorang tokoh filsafat yang serba bisa. Banyak dari pemikirannya masih relevan dengan perkembangan dan kehidupan manusia hari ini.

Sementara itu, pemikirannya mengenai politik dan negara banyak dikaji serta dibicarakan di tingkat universitas bagi mencari solusi dan sintesis terhadap segala kemelut yang berlaku pada hari ini.

Penutup

Demikianlah pembahasan tentang biografi, sejarah, kisah, karya, filsafat, dan pemikiran dari seorang ilmuwan terkenal islam yaitu Al Farabi. Terimakasih telah membaca dan semoga dapat bermanfaat.

Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *