Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

√ Biografi, Sejarah, Karya Pemikiran Filsafat Al Kindi

4 min read

biografi al kindi

Biografi Al Kindi-Al-Kindi merupakan filsafat Islam yang pertama merintis usaha untuk mempertemukan agama dan filsafat yang sesuai ketentuan dan dalil-dalil pikiran.

Menurutnya filsafat adalah pengetahuan yang benar, Al-Quran juga membawa argumen-argumen yang mendukung dan benar dan tidak mungkin membantah dengan argumen yang dihasilkan filsafat.

Nah, artikel kali ini akan membahas tentang biografi, sejarah, karya, dan pemikiran tentang fisafat dari Al Kindi. Selamat membaca.

Biografi Singkat Al Kindi

biografi singkat al kindi
youtube.com
NamaAbu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi
DikenalAl Kindi
Lahir Tahun 188 H (804 M)
WafatTahun 260 H (874 M)
Orang TuaIsaac Ben-Sabah (Ayah)
JulukanFilsuf Arab
Karya YangTerkenalFi al-Falsafa al-Ula (Filsafat Pertama)

Biografi Sejarah Al Kindi

biografi sejarah al kindi
pixabay.com

Al Kindi adalah ilmuwan dengan pengetahuan luar biasa yang dicap sebagai polyhistor atau polimatik di zamannya. Dalam tradisi filsafat Islam, para ilmuan memanggilnya sebagai tokoh filsafat paripetik pertama Islam.

Dialah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi, yang disebut sebagai filsuf Arab pertama yang memulai kajian terhadap filsafat dan juga filsuf-filsuf Yunani kuno.

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi atau dikenal dengan nama Al-Kindi merupakan keturunan asli Arab, dan ia disebut sebagai filsuf Arab yang berasal dari suku Kindah.

Nasab Al-Kindi jika ditelusuri lebih jauh dapat dilacak untuk pangeran Kindah lama, meskipun nama yang disandangnya masih belum dipastikan apakah berasal dari nama pangeran tersebut atau tidak.

Suku Kindah merupakan suku yang tinggal di bagian Arab Selatan, yang jauh lebih maju dibandingkan dengan suku-suku lain dalam peradaban luar. Banyak keluarga Kindah yang sudah lama menjadi penduduk Irak (Babilonia).

Di sinilah, di kota Kuffah, menurut pemilihan, Al-Kindi meminta persetujuan dari ayah yang menjadi gubernur, pada permualan abad ke-9.

Biografi Pendidikan Al Kindi

biografi pendidikan al kindi
pixabay.com

Al-Kindi mendapatkan pendidikan di Basrah, kemudian di Baghdad, yang pada masa itu merupakan pusat-pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam.

Selama di Baghdad, Al-Kindi sangat mendukung peradaban Persia, kuno Arab, dan membantah Islam yang berkembang pada zaman itu, serta filsafat Yunani.

Meskipun tanpa ragu ia menyatakan, Kakhtan (nenek moyang orang Arab Selatan) merupakan saudara Yaunan (asal muasal nenek moyang orang Yunani).

Dari sinilah ia akhirnya memutuskan untuk menghubungkan nilai-nilai Islam dengan filsafat Yunani.

Tentu saja berpikir Al-Kindi pada waktu itu mendapatkan pertentangan dari ulama-ulama di zamannya, namun Al-Kindi tetap mempertahankan harapannya.

Baginya, sebaliknya dengan filsafat, pengajaran keagamaan yang mulanya doktriner, dapat dipahami lebih mudah, dan masuk akal. Dia pun akhirnya memperlihatkan kepada umat Islam tentang filsafat agama dengan ajaran Islam.

Dalam beragam cara Al-Kindi memang memiliki lebih banyak dengan para pakar dialektika Mu’tazilah, yaitu kelompok yang menjunjung tinggi rasionalitas dan semangatnya yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan.

di buku sejarah filsafat dalam Islam (2019; 138) menerjemahkan, sangat mungkin untuk mempercayai pandangan Al-Kindi tentang nenek moyang orang Arab Selatan bersaudara dengan nenek moyang orang Yunani, karena di Bagdad, pada masa itu (dinasti Abbasiyah) Konsep kewarganegaraan, dan sangat menghargai orang-orang Yunani kuno.

Karya Dan Pemikiran Al Kindi

karya dan pemikiran al kindi
pixabay.com

Seperti Ibnu Sina dan ilmuwan lainnya. Al kindi juga memiliki banyak sekali karya.

Berbagai karya Al-Kindi ditulis kompilasi dia “mendiami” istana pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim pada tahun 218 H (833 M).

Ketika itu, dia bertanggung jawab untuk memberi pendidikan privat kepada putra Al-Mu’tashim, yaitu Ahmad ibn Al-Mu’tashim.

Dalam edisi lain, ia disebut sebagai penerjemah karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab, serta merevisi karya-karya terjemahan yang diterjemahkan orang lain, dalam salah satu laporannya adalah  Teologi Aristoteles,  yang didukung oleh pelayan dan muridnya.

Dalam buku Ibn Nadim yang berjudul “ Al-Fihrits ” yang didukung , Al-Kindi telah menulis lebih dari 230 buku. Sementara George N. Atiyah mengatakan, Al-Kindi menulis tentangnya tentang berbagai hal hingga mencapai 270 karya, yang sebagian besar pemikiran tersebut mengandung makalah.

Karya-karya filsafat yang ditulis Al-Kindi lengkap dengan ketelitian dan kecermatan, khusus dalam memberikan perbandingan makna istilah yang digunakan dalam terminologi ilmu filsafat.

Karya Al Kindi Di Bidang Musik

karya al kindi di bidang musik
pixabay.com

Selain menulis dalam filsafat, Al-Kindi juga menulis di bidang musik, membahas al-Kubra fi al-Ta’lif  (Mengenai Harmoni), Tartib an-Nagham al-Dallah ala Taba’i al-Ashkhas al-Aliyah wa Tasyabuhal-Ta ‘Kehidupan  (Tentang Tata Nada yang membahas Sifat Benda Langit dan Kemiripan Harmoni), dan  al-Madkhal ila Sina’at al-Musiqi  (Pengantar Seni Musik).

Ada juga  al-Iqa  (Keselarasan Bunyi), Khabar Ta’lif al-Alhan  (Seni Penyusunan Melodi), Sina’at al-Syiah  (Seni Syair),  al-Za ‘Khabariyyah fi al-Musiqa  (Bagian-bagian Pengetahuan) Musik), al-Mukhtasar al-Musiqa fi Ta’lif al-Nagham wa Sina’at al-Ud (Ringkasan Musik Mengenai Komposisi Nada dan Pembuatan Gitar), dan  Risalah Fi al-Luhun wa al-Naghmi. Kata ‘al-Musiq’  dalam beberapa kitab al-Kindi ini lebih disukai sebagai usul dari kata ‘musik’ atau ‘musik’

Karya Al Kindi Di Bidang Kedokteran

karya al kindi di bidang kedokteran
pixabay.com

Sementara itu, Al-Kindi juga menulis beberapa buku tentang pengobatan seperti  al-A’rad al-Hadithath minal-Balgham wa ‘Illah Mawt al-Fuja’ah (Tentang Kejang Akibat Lendir dan Penyebab Kematian Mendadak) dan Risalah Fi Ma’rifat Quwa al-Adwiya al-Murakkaba yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, De Medicinarum Compositarum Gradibus Investigandis Libellus (Penyelidikan atas Keampuhan Campuran Obat), sebuah buku yang berkaitan dengan obat-obatan.

Dari berbagai karangan tersebut, Al-Kindi sangat mendukung paham eklektisme, yaitu beberapa paham reformasi atau kepercayaan yang tidak mempergunakan atau menggunakan metode apa pun yang ada, mengambil apa yang paling baik dari berbagai buah pikir para pemikir sebelumnya.

Karena pemikiran, pikiran-pikiran filsafat Al-Kindi banyak dipertanyakan oleh filsuf-filsuf Yunani, yaitu Aristoteles, Plato, dan Pythagoras yang digabungkan satu sama lain.

Menurut Al-Kindi, tidak ada seorang pun yang dapat menjadi filsuf tanpa belajar matematika. Untuk menemukan permainan fantastik terdiri dari huruf-huruf dan angka-angka yang dapat ditemukan di dalam tulisannya.

Ia bahkan menerapkan matematika pada kedokteran dalam teorinya tentang komposisi obat. Lantaran berbicara dan doktrin inilah, Cardan, seorang filsuf Renaisans, memasukkan Al-Kindi sebagai salah satu dari 12 pemikir yang memiliki konsep yang paling rumit dan detail.

Tuhan dan Akal

tuhan akal
pixabay.com

Dalam menjelaskan tentang Tuhan, Al-Kindi mendasarkan pada pertemuan alam. Menurutnya, Tuhan adalah hakikat kebenaran pertama (al-haqq al-awwal), yang tidak termasuk filsafat yang paling tinggi dan sebab dari semua kebenaran.

“Keteraturan alam inderawi ini tidak mungkin terjadi, kecuali dengan adanya Zat yang tidak terlihat, dan Zat yang tidak terlihat tidak mungkin dianggap memiliki keterkaitan dengan keteraturan dan bekas-bekas yang menunjukkan ada-Nya. Argumen yang demikian disebut dengan argumen teleologik, ”ungkap, Al-Kindi.

Secara sederhana, Al-Kindi sebenarnya ingin menjelaskan tentang alam semesta adalah karya Tuhan, namun demikian, Tuhan ditransmisikan melalui banyak agensi yang memfasilitasi semua yang hidup di dalamnya, serta bagaimana keteraturannya.

Al Kindi menjelaskan, tidak mungkin keanekaan wujud alam ini tanpa ikatan, demikian pula sebaliknya, tidak mungkin ada ikatan tanpa keanekaan. Inilah yang akan mewujud dalam teori kausalitas atau sebab hukum yang menyangkut segala hal dan memungkinkan manusia untuk meramalkan masa depan.

Teori Al-Kindi tentang pengetahuan sebenarnya berkaitan dengan etik dan metafisik, atau pengetahuan inderawi dan pengetahuan spiritual.

Menurut teori ini, pengetahuan disampaikan oleh panca indera atau pengetahuan, yang diperoleh oleh akal dan sesuatu yang diperoleh (fantasi, kreativitas) yang disebut sebagai fakultas pertama.

Panca indera dalam hal ini memecahkan yang partikular, atau bentuk materialnya, namun akal sehat yang universal sekaligus bentuk spiritualnya.

Dari sinilah kemudian untuk pertama kali muncul doktrin tentang akal, atau ruh, atau pikiran, dan nalar ( ‘aql ) dalam bentuk yang hanya dengan sedikit mengubah dan menggunakan sebagian besar pemikiran filsuf muslim di waktu kemudian.

Murid Al Kindi

murid al kindi
pixabay.com

Pengaruh Al-Kindi sebagai guru dan pengarang inilah yang paling banyak ditemukan dalam berbagai bidang, terutama matematika, astrologi, dan kedokteran.

Dari sekian banyak muridnya, yang paling setia dan paling menonjol adalah Ahmad bin Muhammad Al-Tayyib Al-Syarakhsi. Seorang alkimia, astrolog, yang juga melakukan kajian dalam bidang geografi dan sejarah.

Selain itu, ada juga Abu Mashar yang memiliki kepemilikan luar biasa dalam astrologi, yang dikemudian hari ia menjadi penentang filsafat yang paling fanatik.

Tahun kematian Al-Kindi hanya sedikit yang diketahui tentang kelahiran kelahirannya yang simpang siur. Wikipedia mengutip kematiannya di tahun 873 M, dengan didukung oleh data dari tulisan Boer, yang menurutnya memang Al-Kindi hidup hinga tahun 870-an M. (wallahualam).

Penutup

Demikianlah pembahasan singkat tentang biografi sejarah Al Kindi. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *