Dabith Sibghotullah Alumnus UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

√ Biografi Imam Abu Hanifah, Pendiri Mazhab Hanafi

4 min read

biografi imam hanafi

Biografi Imam Hanafi – Semakin jauh dari masa Rasulullah dan semakin luas daerah-daerah yang mengenal Islam, semakin luas pula perkembangan ilmu keislaman.

Perkembangan di sini diartikan dalam hal yang positif bukan perkembangan yang keluar dari garis besar tuntunan Islam.

Misalnya, dahulu di zaman Rasulullah dan sahabatnya, huruf-huruf Alquran ditulis dengan tanpa menggunakan harokat dan tanda titik.

Setelah orang-orang non-Arab mengenal Islam, penulisan huruf-huruf Alquran lebih disederhanakan dengan menambahkan titik pada huruf-huruf yang hampir sama, lalu di masa berikutnya ditambahkan harokat.

Yang demikian dimaksudkan agar orang-orang non-Arab mudah membacanya.

Demikian juga dalam permasalahan agama secara umum, para sahabat dimudahkan dalam memahami Islam karena mereka bisa bertanya langsung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in bisa bertanya kepada para sahabat.

Adapun orang-orang setelah mereka, dengan penyebaran Islam yang luas membutuhkan penyederhanaan yang lebih mudah dipahami oleh akal pikiran mereka.

“Salah satu orang pertama yang melakukan usaha besar menyederhanakan permasalahan ini adalah seorang imam besar yang kita kenal dengan Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi rahimahullah”

Beliau menyusun kajian fikih dan mengembangkannya demi kemudahan umat Islam. Dan berikut biografi dan kisah lengkap dari Abu Hanafi atau Imam Hanafi.

Biografi Dan Kisah Imam Hanafi

biografi dan kisah imam hanafi
pixabay.com

Siapa Abu Hanifah atau imam Hanafi?

Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi adalah pendiri mazhab Hanafi, nama lengkapnya adalah Abu Hanifah An-Nukman bin Tsabit bin Zufi At-Tamimi.

Dia masih memiliki ikatan keluarga dengan Imam Ali bin Abi Thalib. Imam Ali bahkan berdoa untuk Tsabit, agar Allah memberkati keturunannya.

Maka tidak heran kalau keturunan Tsabit, seorang ulama besar seperti Abu Hanifah muncul.

Lahir di Kufah pada 150 H/699 M, pada masa pemerintahan Al-Qalid bin Abdul Malik, Imam Abu Hanifah kemudian menghabiskan masa kecilnya dan tumbuh di sana.

Sejak kecil, ia telah mempelajari dan menghafal Al Qur’an. Dia terus-menerus mengulangi bacaannya, sehingga ayat-ayat suci disimpan dengan baik dalam ingatannya, sehingga membuatnya lebih sadar akan makna yang terkandung di dalamnya.

Dalam studinya, pada mulanya Abu Hanifah senang mempelajari bidang Qira’ah dan Tajwid kepada Idris ‘Asham, al-Hadits, Nahwu Sharaf, sastra, puisi, dan sains yang berkembang pada saat itu, termasuk ilmu kalam (teologi).

Karena ketajamannya dalam menyelesaikan semua masalah, ia mampu membuat argumen yang dapat menyerang kelompok Khawarij dan doktrinnya yang ekstrem.

Sehingga ia menjadi salah satu tokoh teologi Islam. Selain memperdalam Alquran, ia juga aktif dalam mendalami ilmu fikih.

Dalam hal ini, Abu Hanifah belajar kepada para sahabat Rasul, di antara mereka Anas bin Malik, Abdullah bin Aufa dan Abu Tufail Amir, dan lainnya. Di antara mereka, ia juga mempelajari hadits.

Keluarga Abu Hanifah sebenarnya adalah keluarga pedagang. Dia sendiri telah terlibat dalam perdagangan, tetapi hanya masalah waktu sebelum dia berkonsentrasi pada keilmuwannya.

Ia juga dikenal sebagai orang yang sangat rajin belajar sains. Sebagai contoh, ia belajar ilmu hukum dengan cendekiawan paling terkemuka saat itu, Humad bin Abu Sulaiman, berusia tidak kurang dari 18 tahun.

Setelah gurunya meninggal, Imam Abu Hanifah kemudian mulai mengajar di banyak majelis ilmu di Kufah.

Setelah sepuluh tahun kematian gurunya, pada tahun 130 H. ia meninggalkan Kufah menuju ke Mekah.

Dia tinggal di sana selama beberapa tahun, dan di sana dia bertemu dengan salah seorang murid Abdullah bin Abbas.

Selama masa hidupnya, Imam Abu Hanifah dikenal sebagai orang yang sangat terpelajar, seorang yang zuhud, seorang yang sangat tawadhu’, dan seorang yang sangat percaya pada ajaran agama.

Dia tidak tertarik pada jabatan resmi negara, ia pernah menolak tawaran sebagai hakim (Qadhi) yang ditawarkan oleh Al-Mansur.

Dikatakan bahwa karena penolakannya ia dipenjara hingga akhir hayatnya.

Imam Abu Hanifah wafat pada 150 H/767 M, pada usia 70 tahun. Dia dimakamkan di pemakaman Khizra. Pada 450 H/1066 M, kemudian didirikanlah sebuah sekolah bernama ‘Abu Hanifah.

Setelah kematiannya, ajaran dan ajarannya terus menyebar melalui murid-muridnya.

Di antara murid Abu Hanifah yang terkenal adalah Abu Yusuf, Abdullah bin Mubarak, ziarah Waki’bin ibn Hasan Al-Syaibani, dan lainnya.

Karya dan Pengikut Imam Hanafi

karya imam hanafi
pixabay.com

Sebagai ulama yang terkemuka dan banyak mengeluarkan fatwa, Imam Abu Hanifah meninggalkan banyak ide dan buah ideologi, namun karya Imam Hanafi tidak seperti yang kita kenal sekarang.

Sebagian ide dan buah pikirannya ditulis dalam bentuk buku, tetapi kebanyakan dihimpun oleh murid-muridnya untuk kemudian dibukukan. Antara lain karya Imam Hanafi:

  • Al-Fiqh Al-Akhbar
  • Al Fiqh Al-Ausath
  • Al-‘Alim wa Muta’alim ar-Risalah
  • Al-Atsar
  • Al-Mabsuth
  • Az-Ziyadat
  • Al-Jami’Al-Kabir
  • As-Sair Al-Kabir
  • Al-Jami’ Asa-Shaghir
  • As-Shair Ash-Shaghir

Menanggapi masalah ini, Ayeed Amir Ali menyatakan bahwa karya-karya Abu Hanifah, baik yang kaitannya dengan fatwa dan ijtihad dirinya pada waktu itu (selama masa hidupnya) banyak yang belum dibukukan.

Tetapi setelah kematiannya, para murid dan pengikutnya segera membukukan, dengan demikian menjadi mahzab Ahl al-Ra’yi, dan setelah itu menjadi terus berkembang.

Kemudian mendirikan Madrasah yang dikenal sebagai “Madrasah Hanafi atau Madrasah Ahl al-Ra’yi, di samping nama terkenalnya, dalam sejarah hukum Islam disebut “Madrasah Kufah”.

Guru-Guru Imam Hanafi

guru imam hanafi
pixabay.com

Abu Hanifah terkenal sebagai seorang alim dalam ilmu fiqih dan tauhid. Menurut kebanyakan guru-guru beliau pada waktu itu ialah para ulama Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in, diantaranya ialah:

  • Atha’ bin Abu Rabah
  • Abu Ishaq As-Shabi’i
  • Muharib bin Datsar
  • Hamid bin Abu Sulaiman
  • Haitsam bin Habib ash Shawaf
  • Qais bin Muslim
  • Muhammad bin Mukadir
  • Nafi’
  • Hisyam bin Urwah
  • Yazid bin Faqir
  • Samak bin Harb
  • Alqamah bin Muertasid
  • Athiyah al-Aufa
  • Abdul Karim bin Abu Umayyah dan masih banyak lagi ulama-ulama besar lainnya.

Murid-murid Abu Hanifah

murid imam hanafi
kompasiana.com

Sistem Penyebaran pemikiran seorang tokoh, terlihat melalui keberadaan murid dan pengikutnya, adalah sebagai berikut:

Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Auza’iy (113-182 H)

Dan dia menjadi “Qadlibal-Qudhat” (kepala Hakim tertinggi yang berwenang untuk menunjuk Hakim daerah) selama khalifah Harun al-Rashid dan menyusun sebuah kitab berjudu l”al-Kharaj” yang membahas tentang” Hukum Pajak Tanah”.

Muhammad bin Hasan bin Farqad al-Syaibany (132-189 H)

Dan inilah dia, salah satu dari banyak ulama Abu Hanifah yang menyusun dan mengembangkan karya Abu Hanifah, di antaranya adalah Al kutub al-Sittah (enam kitab) yang terkenal, yaitu:

  • Kitab al-Mabsuth
  • Kitab al-Ziyad
  • Kitab al-Jami ‘al-Shaghir
  • Kitab al-Jami ‘al-Kabir
  • Kitab al-Siyarul Kabir
  • Kitab al-Siyarul Shaghir

Zufar bin Huzaili (110-189 H)

Dia adalah salah satu murid Abu Hanifah yang mengikuti contoh gurunya, dan menolak untuk menerima tawaran sebagai Qadli meskipun faktanya banyak tawaran menarik yang diberikan kepadanya.

Zufar lebih suka mengajar, yang berlanjut sampai dia meninggal pada usia 42 di Basrah.

Dengan demikian, melalui karya-karya inilah Abu Hanifah dan mahzab-nya memiliki pengaruh besar di dunia Islam.

Sehingga pada masa pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah, mahzab Abu Hanifah menjadi yang paling banyak diikuti dan diterima oleh kalangan Muslim.

Bahkan di kerajaan “utsmani” menjadi salah satu aliran dan mahzab resmi negara. hingga hari ini tetap menjadi kelompok mayoritas selain aliran mahzab syafi’i.

Pengikut Mazhab Hanafi

pengikut mahzab imam hanafi
kompasiana.com

Para pengikut mahzab Hanafi saat ini tersebar di seluruh India, Afghanistan, Irak, Suriah, Turki, Guyana, Trinidad, Suriname dan beberapa dari mereka di Mesir.

Ketika para penguasa Kerajaan ustmani menyusun hukum Islam berdasarkan mahzab Hanafi pada abad ke-19 dan menjadikannya hukum negara resmi, setiap ulama ‘yang ingin menjadi hakim harus mempelajarinya.

Dengan demikian, mahzab ini menyebar ke seluruh kerajaan ustmani pada akhir abad ke-19.

Akhir Kata

Alhamdulillah, akhirnya pembahasan tentang biografi dan sejarah kisah dari Imam Hanafi atau Abu Hanifah telah selesai. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan beliau menuntut ilmu. Terimakasih telah membaca dan semoga bermanfaat.

Dabith Sibghotullah Alumnus UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *