Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

√ Biografi Imam Maliki, Gurunya Para Imam Mahzab

4 min read

biografi imam maliki

Setelah sebelumnya kita membahas tentang biografi imam hanafi, kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang biografi dan sejarah singkat dari Imam Maliki.

Madzhab Maliki adalah salah satu Madzhab fikih paling tua dibanding madzhab-madzhab yang lain.

Dipelopori oleh Imam Malik, salah seorang faqih sekaligus muhaddis ternama yang menulis kitab terkenal berjudul al-Muwattha’, salah satu kitab hadis tua yang ditulis jauh sebelum kitab hadis lainnya seperti sahih Al Bukhori dan sahih Muslim lahir.

Lalu siapakah beliau?simak selengkapya dibawah ini tentang biografi imam maliki

“Aku tidak pernah merasa bosan untuk menyebarkan ilmu, walaupun kepada satu orang.”(Imam Malik)

Biografi Dan Sejarah Singkat Tentang Imam Maliki

biografi imam maliki
pixabay.com

Siapakah Imam Maliki?

Imam Maliki (711-795 masehi/93-179 hijriah) adalah ulama ahli fiqih dan hadis. Dia lahir dari keluarga pecinta ilmu hadis, atsar, dan fatwa para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Ayahnya bernama Anas, salah satu periwayat hadis. Sementara kakeknya bernama Malik bin Abi Amir, salah satu tokoh ulama dari kalangan tabi’in, orang Islam di masa awal yang mengalami zaman bersama para Sahabat Nabi.

Malik bin Abi Amir, termasuk orang yang sering meriwayatkan banyak hadis dari para sahabat nabi SAW, seperti Sayyidina Umar, Sayyidina Usman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sayyidah ‘Aisyah, Abu Hurairah, Hassan bin Tsabit dan’ Uqail bin Abi Thalib.

Malik bin Abi Amir juga mempunyai kedekatan dengan Sayyidina Usman bin Affan. Suatu saat Sayyidina Usman pernah mengutus Malik bin Abi Amir untuk menaklukkan Afrika hingga berhasil.

Ketika Sayyidina Usman mengumpulkan semua mushaf, Malik bin Amir juga salah satu di antara tabiin yang dipercaya untuk menulis mushaf.

Perjuangan Imam Malik Mencari Ilmu

perjuangan imam maliki mencari ilmu
pixabay.com

“Bukan ilmu yang harus datang kepadamu, tapi kamulah yang seharusnya datang menjemput ilmu” – Imam Malik bin Anas

Perjuangannya mencari ilmu ini kemudian menurun pada cucunya, Imam Malik. Imam Malik sudah menunjukkan kesungguhan dalam menimba ilmu.

Dia hafal Alqur’an saat masih berusia belia, kemudian beralih menghafal hadis dengan tekun dan sungguh-sungguh.

Imam Malik sering menghabiskan sebagian waktunya untuk menulis dan menghafalkan hadis. Selain rajin dalam menghafal hadis, Imam Malik kecil juga rajin belajar ilmu fiqih.

Dia pertama kali mempelajari ilmu fiqih bersama Rabi’ah bin Abdirrahman.

Kelurganya, terutama Ibu imam Malik, sangat antusias melihat ketekunannya belajar.

Suatu ketika dia pamit untuk mencari ilmu kepada Rabi’ah, lalu dengan penuh perhatian ibunya memakaikan pakaian yang bagus dan surban sambil mengatakan:

“Pergilah belajar dan jangan lupa menulis apa yang didengar dari Rabi’ah. Pelajari adab Rabi’ah sebelum ilmunya.”

Imam Malik juga rajin menghadiri halaqah Abdurrahman bin Hurmuz. Selama 13 tahun beliau belajar terus menerus kepada Ibnu Hurmuz tanpa diselingi belajar untuk guru lain.

Ibnu Hurmuz termasuk guru favorit dan sangat berperan dalam kehidupan intelektul imam Malik.

Dalam suatu halaqah, Ibnu Hurmuz pernah mengatakan:

“Sebaiknya seorang guru tidak segan mewariskan kata” la adri (tidak tahu) “untuk santrinya.” Di kemudian hari, setiap kali Imam Malik bertanya tentang suatu masalah, Ibnu Hurmuz sering mengatakan “la adri.”

Ketekunan Imam Malik saat mencari ilmu menjadikannya berpengetahuan luas dan mendalam tentang berbagai bidang ilmu agama. Sehingga, di kemudian hari ia menjadi rujukan banyak para pecinta ilmu.

Ulama besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pernah menuntut ilmu dan belajar dari Imam Malik. Dikatakan bahwa tokoh dan ulama terkenal yang pernah belajar ke Imam Malik tak kurang dari 1.300 orang.

Pemikiran Imam Malik

Pemikiran dari imam maliki
pixabay.com

Kota Madinah menjadi tempat belajar Imam Malik. Selama kehidupannya, dia tidak pernah mengembara ke negeri lain untuk mencari ilmu.

Dia hanya mencukupi belajar ilmu dengan tokoh dan ulama dari kalangan tabiin di Madinah.

Pada mulanya, beliau ikut dan menghafal Alquran, hadis Nabi Muhammad SAW, atsar, fiqih, dan fatwa sahabat dan tabiin.

Ketika masa kehidupan Imam Malik, wilayah kekuasaan Islam membentang luas ke berbagai penjuru dunia. Kondisi ini memerlukan strategi khusus para ulama dalam merespon masalah kehidupan sosial dan keagamaan.

Dalam kehidupan beragama muncul dua corak metode dan aliran dalam memahami teks-teks keagamaan.

  • Pertama, metode ahli hadis atau ahli atsar. Aliran ini mendasarkan pemahaman agama pada nash-nash Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
  • Kedua , metode ahli ra’yi. Aliran ini mendasarkan pemahaman keagamaan pada alasan hukum atau maksud dan tujuan syariah. Mereka tidak bersumber pada nash-nash Alquran dan Sunah secara tekstual, tetapi pada ‘illah-‘illah hukum yang terkandung dalam nash-nash Alquran dan Sunah tersebut.

Ulama ahli hadis diwakili dari kalangan umat Islam yang berdomisili di Hijaz, khususnya di Madinah. Sedangkan Ahli ra’yi diwakili dari kalangan Umat Islam di Irak.

Sering terjadi antara dua aliran ini dalam pemahaman keagamaan, terutama fiqih, sejak periode tabiin.

Kalangan ahli hadis sering menyalahkan Kalangan Ahli ra’yi dengan tuduhan bahwa Ahli ra’yi meninggalkan sebagian hadis dan lebih mendahulukan hasil ideologi terhadap nash.

Sedangkan ahli ra’yi menyalahkan Ahli hadis karena tidak mengetahui maksud dan tujuan syariah. Kalangan ahli ra’yi sering membantah argumentasi ahli hadis dalam perdebatan.

Imam Malik termasuk ulama Madinah yang sering berseberangan dengan kalangan ahli ra’yi di Irak.

Salah satu pemikiran Ahli ra’yi Yang kurang disetujui beliau Adalah qiyas, menurut Ahli ra’yi, yaitu menganalogikan hukum suatu masalah yang tidak ada nash hukumnya dalam Alquran atau sunah dengan hukum suatu masalah yang ada nash hukumnya.

Imam Malik dan kebanyakan ulama Madinah lebih mendahulukan metode al-Mashalih dalam menanggapi masalah baru yang tidak ada nash hukumnya dalam Alquran dan Sunah.

Peninggalan Intelektual Imam Malik

Peninggalan imam maliki
pixabay.com

Peninggalan intelektual imam Malik sangat besar terhadap pemikiran keagamaan umat Islam. Ada dua warisan besar Imam Malik yang masih diterima umat Islam di seluruh dunia hingga hari ini: kitab al-Muwattha‘ dan Mazhab Maliki.

Kitab al-Muwattha merupakan karya terbesar Imam Malik dan menjadi rujukan penting hingga hari ini, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Kitab ini memiliki banyak keistimewaan.

Sebabnya, kitab al-Muwattha’ disusun berdasarkan klasifikasi fiqih dengan memperinci kaidah-kaidah fiqih yang disarikan dari hadis Nabi Muhammad SAW dan fatwa para sahabat.

Imam Malik wafat pada usia 92 tahun pada tahun 179 H/795 M. Dan termasuk ulama yang dikarunia berumur panjang dan menghabiskan seluruh umurnya untuk ilmu dan pengabdian terhadap agama dan umat.

Dalam rentang umur yang panjang ini, Imam Malik pernah hidup dalam dua kekuasan Islam terbesar, Umawiyah dan Abbasiyah.

Konon, Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim, gubernur Madinah dari dinasti Abbasiyah, termasuk orang yang menshalati jenazah Imam Malik dan mengantarkan sampai pembaringan terakhirnya di Baqi’.

Mazhab Maliki masih hidup hingga hari ini dan menjadi mazhab resmi di beberapa negara.

Kisah Imam Malik

kisah imam maliki
pixabay.com

Berbicara tentang Ramadhan, ada sebuah kisah yang menyentuh hati.

Sebuah riwayat menyatakan , Imam Malik bin Anas (penggagas Mahdzab Maliki) bercerita, suatu waktu di bulan Ramadhan saat berbuka puasa, beliau menangis menitikkan air mata hingga janggutnya basah karenanya.

Salah seorang muridnya kemudian bertanya:

“Wahai guruku yang mulia, ada apakah gerangan sehingga engkau menangis sedemikian sedih serta menyayat hati kami? Apakah ada diantara kami yang membuat hatimu sedih, atau hidangan yang ada saat ini kurang berkenan?”

Imam Malik kemudian menjawab, “Tidak, tidak, wahai murid-muridku. Sungguh kalian adalah murid-murid terbaikku dan sangat khidmah padaku, bahkan hidangan ini adalah sangat mewah dan nikmat buatku”

Muridnya bertanya lagi, “Lalu gerangan apakah yang membuatmu menangis sedemikian dahsyatnya wahai guru kami tercinta?”

Imam Malik menjawab, “Sungguh aku pernah berbuka dengan guruku Al-Imam Ja’far As-saadiq cucu baginda Rasulullah, dengan makanan yang teramat nikmat seperti saat ini” beliau berkata sambil terisak.

Inilah bukti cinta Rasulullah kepada Umatnya. beliau Al-Imam Ja’far As-saadiq mengatakan:

“Wahai Ibnu Anas (Imam Malik), tahukah engkau bahwasannya Rasulullah terkadang berbuka puasa hanya dengan 3 butir kurma dan air, tetapi Rasulullah tetap merasa sangat nikmat penuh syukur,

bahkan sering kali Rasulullah SAW berbuka puasa hanya dengan sebutir kurma dan dibagi dua dengan istri tercinta Aisyah. Dan sungguh Rasulullah SAW tetap merasa nikmat penuh syukur”

“Rasulullah SAW sedikit makan sahur dan sedikit pula saat berbuka puasa, Rasulullah SAW sangat banyak beribadah dan bersyukur,

Rasulullah selalu mendoakan kita umatnya yang sering lalai dan melupakan beliau. Sedangkan hari ini kita dipenuhi dengan makanan yang nikmat dalam berbuka puasa, akan tetapi sangatlah jauh dari rasa syukur dan ibadah”

Tak lama kemudian, ruangan tersebut menjadi penuh haru, isak tangis penuh kerinduan kepada Rasulullah. Betapa sederhananya Rasulullah dan betapa beliau sangat mencintai kita umatnya.

Akhir Kata

Alhamdulillah, pembahasan tentang biografi imam maliki telah selesai. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih telah membaca.

Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *