Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Contoh Khutbah Jumat Tentang Perayaan Natal

6 min read

contoh khutbah jumat

contoh khutbah jumat – Sebagai sorang muslim, tentunya kita dilarang untuk mengucapkan selamat pada hari raya non-muslim, nah kali ini penaqolbi akan membahasnya dalam bentuk teks contoh khutbah jumat.

semoga contoh khutbah jumat ini bermanfaat.

Mukaddimah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

contoh khutbah jumat

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

Yang pertama marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamin yang telah memberikan kita banyak nikmat yang masih bisa kita rasakan pada hari ini.

Yang kedua tak lupa sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, suri tauladan kita, nabi agung Muhammad SAW. Yang semoga kita termasuk umatnya kelak di yaumil akhir.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

Selayaknya kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya selaku khotib menjelaskan sejumlah hujjah larangan ikut perayaan natal dan tahun baru.

Dari keterangan di atas, setiap jalan yang tidak sesuai dengan aqidah dan amaliyah seorang mukmin maka itu bukan jalan orang mukmin, wajib dihindari.

Karena jika diikuti maka Allah akan mengancamnya dengan ungkapan: Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Dan yang jelas bukan termasuk jalannya orang mukmin adalah perayaan natal dan tahun baru, yang disebut Misa Kristus atau Christmas atau natalan.

Perayaan kelahiran Yesus atau yang disebut Christmas atau Misa Kristus.

“Mass” atau misa berarti “misi”, jadi (menurut keyakinan Nasrani) mereka diutus untuk mengabarkan sukacita tentang kedatangan Sang Juru selamat.

 

Itu jelas bukan jalan orang-orang Mukmin. Maka dari itu, kita sebagai umat islam, dilarang mengucapkan selamat natal apalagi kegiatan-kegiatan tentang perayaan Natal itu sendiri.

Berikut ini sejumlah hujjah dilarangnya bagi Ummat Islam, yang dikutip dari fatwa Syaikh Abdullah al-Faqih, mengenai Hukum Perayaan Natal dan Tahun Baru Masehi – bagi Ummat Islam.

Syaikh Abdullah Al-Faqih menjelaskan sebagai berikut: “Tidak boleh bagi seorang Muslim bergabung dengan Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani) dalam perayaan hari besar Christmas (misa Kristus, natal, kelahiran Yesus) ataupun “tahun baru Miladiyah”,

Dan dilarang mengucapkan selamat kepada mereka, karena hari raya itu termasuk jenis amal mereka yang itu adalah agama mereka yang khusus bagi mereka, atau syiar agama mereka yang batil. sebenarnya kita sudah dilarang menyepakati mereka dalam hari-hari besar mereka, yang mana sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ dan i’tibar (ungkapan yang dapat diambil sebagai pelajaran):

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

  1. Allah berfirman di dalam Al-Quran:

Mujahid menyatakan dalam menafsirkan ayat tersebut: sesungguhnya ia adalah hari-hari besar orang-orang musyrik, demikian pula dikatakan seperti itu oleh Ar-Rabi’ bin Anas, Al-Qadhi Abu Ya’la, dan Ad-Dhohhak.

Ibnu Sirin berkata: az-zuur (palsu) adalah sya’anin, yaitu hari besar bagi Nasrani yang mereka adakan pada hari Ahad yang dulunya untuk hari raya paskah dan mereka berpesta di dalamnya dengan membawa perlengkapan, dan mereka menyangka bahwa itu adalah peringatan untuk masuknya Isa Al-Masih ke Baitul Maqdis, seperti dijelaskan dalam kitab Iqtidho’us shirothil mustaqiem 1/ 537 dan al-Mu’jam Al-Wasith 1/ 488.

 

  1. Adapun dari As-Sunnah:

Di antaranya dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata;

Dalil itu menyatakan bahwa dua hari raya jahiliyah tidak diakui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak membiarkan mereka merayakan pada dua hari raya itu berdasar kebiasaan.

Bahkan kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah telah mengganti yang lebih baik dari keduanya itu” penggantian dari sesuatu itu menuntut untuk meninggalkan apa yang telah diganti, karena tidak boleh berkumpul antara pengganti dan yang diganti.

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

خَيْرًا مِنْهُمَا  yang lebih baik dari keduanya itu menuntut penggantian apa yang pernah ada di masa jahiliyah dengan yang disyari’atkan kepada kita (yaitu dua hari raya,  Idul Adha dan Idul Fithri).

  1. Adapun dari Ijma’:

Seperti yang diketahui dari sejarah, bahwa bangsa Yahudi dan Nasrani terbiasa ada di kota-kota orang muslimin, mereka mengadakan hari-hari besar yang mereka yakini.

Namun karenanya tidak ada di masa salaf dari kalangan kaum muslimin yang mengikuti keyakinan mereka dalam hal itu sedikitpun. begitu juga apa yang dilakukan oleh sahabat Umar dalam menerapkan syariatnya beserta ahli dzimmah yang disepakati para sahabat dan semua fuqoha’ (ahli fiqih) sesudah mereka:

Bahwa ahli dzimmah yaitu Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) tidak menampakkan hari-hari besar mereka di negeri Islam, ini dulu kesepakatan mereka.

sesungguhnya hanya untuk melarang mereka menampakkan hari-hari besar mereka, maka bagaimana boleh kita sebagai muslimin mengerjakannya?

Bukankah tindakan seorang muslim kepada hari raya mereka itu lebih keras larangannya ketimbang penampakan orang kafir (sendiri) terhadap hari besarnya?

Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan: jauhilah oleh kamu sekalian dari bicara dengan bahasa orang-orang asing, dan jangan masuk ke orang-orang musyrik di hari-hari raya mereka di gereja-gereja mereka, karena sesungguhnya kemurkaan sedang berturun-turun atas mereka. (Diriwayatkan Abu Al-Syaikh Al-Ashbahani dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih).

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

Imam Ibnu Taimiyyah berkata: Umar ini telah melarang untuk mendalami bahasa mereka, dan melarang sekedar masuk gereja mereka di hari raya mereka, maka bagaimana dengan (mengerjakan) perbuatan sebagian perbuatan-perbuatan mereka?

Atau (bagaimana pula) mengerjakan apa yang termasuk tuntutan agama mereka? Bukankah menyetujui perbuatan mereka itu lebih besar daripada menyetujui bahasanya? Bukankah (mengikuti) kehendak mereka sebagian dari kegiatan di hari raya mereka itu lebih besar (larangannya) daripada sekedar masuk ke kalangan mereka di hari raya mereka?

Dan saat kemurkaan (Allah) telah tiba pada mereka di hari raya mereka dikarenakan perbuatan mereka, maka orang yang mengikuti dengan mereka dalam perbuatan atau sebagiannya, bukankah sungguh telah menyambut siksa yang demikian?

Setelah itu Umar mengatakan:”Dan jauhilah oleh engkau musuh-musuh Allah di hari raya mereka; bukankah itu suatu larangan untuk menjumpai mereka dan berkumpul dengan mereka pada hari raya mereka. kemudian bagaimana ketika (mengikuti) perbuatan hari raya mereka” (Ibnu Taimiyyah,Iqtidhous Shirothil Mustaqiem 1/ 515).

  1. Adapun dari pengambilan pelajaran

(I’tibar) maksudnya: Hari-hari raya adalah termasuk rangkaian syari’at, manhaj (jalan, sistem pemahaman) dan tata cara peribadahan (manasik) yang telah Allah firmankan di dalamnya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً [المائدة:48].

. untuk setiap umat diantara kamu[422], kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS Al-Maidah: 48).

[422] Maksudnya: umat Nabi Muhammad SAW. dan umat-umat yang sebelumnya.

Ibnu Taimiyyah berkata:

“Bahwa tidak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya mereka dan antara mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (jalan, sistem pemahaman), karena menyetujui seluruh hari raya itu adalah menyetujui kekafiran, dan mengikuti sebagian ajarannya itu adalah mengikuti sebagian ajaran kekafiran.

bukankah hari-hari raya itu termasuk paling khas dari apa yang menandai syari’at, dan termasuk yang paling tampak di antara syiar-syiar?

Maka mengikutinya adalah menyetujui syari’at kekafiran yang paling khusus dan syiar kekafiran yang paling nyata.

Dan tidak diragukan lagi bahwa menyetujui hal ini sungguh telah sampai pada kekafiran dalam keseluruhan dengan syarat-syatanya. (Ibnu Taimiyyah, Iqtidhous Shirothil Mustaqiem 1/ 528)”.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

Beliau mengatakan juga: dan sungguh hari raya mereka itu dari agama yang dilaknat baik agamanya itu sendiri maupun pengikutnya. Maka mengikuti adalah menyetujui penyebab murka dan siksa Allah yang dikhususkan untuk mereka.

Menjadi pelajaran bagi kita juga: bahwasanya apabila diperbolehkan perbuatan yang sedikit dari yang demikian (yaitu mengikuti hari raya mereka).

maka mengakibatkan kepada perbuatan yang banyak, dan apabila telah populer maka orang-orang awam mengikutinya sampai mereka lupa asalnya (itu dari orang kafir) sehingga menjadi kebiasaan bagi manusia.

 

Hal ini dimudahkan Allah menyebutkannya dari dalil-dalil.

Dan siapa yang ingin mendapatkan tambahan lagi maka hendaknya mengkaji kitab Iqtidhoush shirotil mustaqiem mukholafati ash-habil jahiem oleh Ibnu Taimiyyah dan kitab Ahkamu ahlidz dzimmah oleh Ibnul Qayyim, dan kitab al-wala’ wal bara’ fil Islam oleh Muhammad Sa’id Al-Qahthani.

Berdasarkan atas hal yang telah lalu itu maka dikatakan: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk bergabung dengan ahli kitab dalam hari-hari besar mereka, karena dalil-dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ dan I’tibar.

Sebagaimana tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka dengan hari-hari raya mereka karena ia termasuk adat (ciri khas) agama mereka atau ajaran mereka yang batil.

Imam Ibnul Qayyim berkata:

“tentang hal ini mengucapkan selamat dengan syiar-syiar kekafiran yang khusus dengannya maka haram dengan kesepakatan, seperti kalau mengucapkan selamat kepada mereka dengan hari-hari raya mereka dan puasa mereka, dengan mengatakan; semoga diberkahi atas kalian, atau selamat hari raya ini dan semacamnya.

Maka itu apabila selamat pengucapnya dari kekafiran, maka perbuatannya itu sendiri termasuk yang diharamkan, dan itu pada posisi ucapan selamat kepada sujudnya pada salib.

Bahkan hal tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah, dan sangat dibenci daripada perkataan selamat kepada yang minum khamr, membunuh jiwa, dan berbuat dosa pada farji yang haram (berzina) dan sejenisnya.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

Banyak di antara orang tidak memahami agama di sisinya yang jatuh dalam hal yang demikian, dan dia tidak tahu buruknya apa yang dia lakukan.

bahwa barangsiapa mengucapi selamat kepada seseorang pada kemasiatannya atau bid’ahnya atau kekafirannya maka sungguh dia mendatangkan murka Allah dan marahNya dan seterusnya.

Lihatlah kitab Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/ 161 fasal mengenai ucapan selamat kepada ahlidz dzimmah oleh Ibnul Qayyim.

Seandainya ada yang berkata: Orang ahli Kitab mengucapkan selamat kepada kami pada hari-hari raya kami maka bagaimana kami tidak mengucapkan kepada mereka pada hari-hari raya mereka sebagai pergaulan setara dan membalas penghormatan dan menampakkan toleransi Islam dan seterusnya?

Jawabannya: sekirannya mengatakan: kalau toh mereka mengucapkan selamat kepada kita pada hari-hari raya kita, maka tidak boleh kita mengucapi selamat pada hari-hari raya mereka, karena adanya perbedaan.

Hari raya kita itu adalah haq (benar) dari agama kita yang benar. Berbeda dengan hari raya mereka yang batil itu yang dari agama mereka yang batil, maka walaupun mereka mengucapkan selamat atas kita atas kebenaran maka kita tidak mengucapkan mereka atas kebatilan.

Dan sesungguhnya hari-hari besar mereka itu tidak terlepas dari maksiat dan kebatilan, dan yang terbesar dari yang demikian itu adalah pengagungan mereka terhadap salib dan kemusyrikan mereka terhadap Allah Ta’ala.

Tidak ada kemusyrikan yang lebih dimurkai dibanding tuduhan mereka terhadap Isa ‘alaihis salam bahwa ia adalah Tuhan atau anak Tuhan? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan

سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ عَمَّا يَقُوْلُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْراً

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakana,luhur dan agung (tidak ada bandingannya). (QS Al-Israa’: 43).

Ditambah lagi apa yang terjadi dalam perayaan-perayaan mereka pada hari-hari besar mereka berupa pemerkosaan terhadap kehormatan, perbuatan keji, minum untuk mabuk-mabukan, hura-hura, dan perbuatan tanpa malu, yaitu apa yang mengakibatkan marahnya Allah dan murka-Nya.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

Maka apakah pantaskah bagi setiap Muslim yang mengesakan Allah rabbil ‘alamin untuk bergabung atau mengucapi selamat kepada mereka berkaitan dengan ini?

Ingatlah, dan bertaqwalah kepada Allah kepada mereka yang menganggap sepele dalam perkara-perkara seperti ini, dan hendaklah mereka kembali kepada agama mereka.

Kami berlindung kepada Allah agar Dia menjaga keadaan kami dan keadaan seluruh Muslimin.

Wallahu a’lam.

Demikian pernyataan dari Mufti Markaz fatwa di bawah bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih. (fatwa Ash-Shabakah al-Islamiyyah juz 46 halaman 104, nomor 26883, 10 Dzulqa’dah 1425H/ islamweb).

Jama’ah jum’ah rahimakumullah, setelah kita tahu hujah-hujjahnya, maka tidak ada alasan lagi untuk mengikuti jalan mereka. Apabila kita masih mengikutinya, berarti kita tidak takut akan azab Allah Ta’ala seperti tersebut di atas, yaitu:

Semoga kita senantiasa di bimbing oleh Allah Ta’ala atas agama Islam yang diridhoiNya ini, dan dianugerahkan kemampuan untuk mengamalkan sebaik-baiknya dengan ikhlas lillahi Ta’ala, tanpa mengikuti jalan-jalan selain jalan kaum mukminin. Amin ya rabbal ‘alamin.

Khutbah kedua:

contoh khutbah jumat

 

Itulah contoh khutbah jumat tentang perayaan hari natal.

Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *