Dabith Sibghotullah Penulis bernama lengkap Muhammad Dabith Sibghotullah. Biasa dipanggil dengan mas Dabith, atau ketika dulu di pesantren dapet panggilan mas Dabay yang mempunyai makna filosofinya tersendiri. Tapi sebenarnya lebih senang kalau di panggil sayang.

√ Hukum Pidana Dalam Islam, Ternyata Ada!

5 min read

hukum pidana islam

Di dalam Islam juga dijelaskan tentang hukum pidana. Apa pandangan islam tentang hukum pidana?

Di bawah ini akan dijelaskan tentang hukum pidana menurut agama islam.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Pengertian Hukum Pidana Dalam Islam

pengertian hukum pidana islam
pixabay.com

Hukum Pidana Islam sering disebut dalam fiqh sebagai istilah jinayat atau jarimah. Jinayat hukum sering disebut sebagai tindak kejahatan. Jinayat adalah bentuk kata kerja (mashdar) dari kata jana.

Menurut etimologi jana berarti melakukan dosa atau kesalahan, sedangkan jinayah berarti dosa atau kesalahan.

Dalam terminologi kata jinayat memiliki beberapa makna, seperti Abd al Qodir Awdah menyatakan bahwa jinayah adalah tindakan yang dilarang oleh syari’ah, baik itu tentang jiwa, harta, atau lainnya.

Menurut A. Jazuli, pada dasarnya makna dari istilah jinayat mengacu pada hasil dari tindakan seseorang. Biasanya definisi itu terbatas pada tindakan yang dilarang.

Dalam fuqoha‘, kata Jinayat berarti tindakan yang dilarang oleh hukum. Namun, secara umum fuqoha‘ menggunakan istilah hanya untuk tindakan yang dilarang oleh hukum’.

Tetapi, secara umum, fuqoha‘ menggunakan istilah ini hanya untuk tindakan yang mengancam keselamatan jiwa, seperti pemukulan, pembunuhan, dan sebagainya.

Selain itu, ada fuqoha‘ yang membatasi istilah Jinayat untuk tindakan yang terancam oleh hukuman hudud dan qishash, tidak termasuk tindakan yang terancam oleh ta’zir.

Istilah lain yang sesuai dengan istilah jinayat adalah jarimah, larangan-larangan syariah yang Allah ancam dengan hukuman had atau ta’zir.

Beberapa fuqoha menggunakan istilah jinayat untuk tindakan yang berhubungan dengan jiwa atau anggota tubuh, seperti membunuh, melukai, dan sebagainya.

Dengan demikian istilah fiqh jinayat sama dengan hukum pidana. Haliman dalam disertasinya menyatakan bahwa hukum pidana dalam yurisprudensi Islam adalah ketentuan hukum Islam yang melarang melakukan atau tidak melakukan apa-apa, dan bahwa pelanggaran ketentuan hukum ini dapat dihukum oleh penderitaan tubuh atau harta benda.

Secara umum, konsep Jinayat mirip dengan hukum Pidana dalam hukum positif, yaitu, hukum yang mengatur tindakan yang berhubungan dengan jiwa atau anggota tubuh, seperti membunuh, melukai, dan sebagainya.

Jarimah (kejahatan) dalam Hukum Pidana Islam (Jinayat) meliputi, hadits hudud, qishash diyat dan ta’zir.

Ta’zir yaitu kalimat yang tidak ditentukan dari Alquran dan hadis terkait dengan kejahatan yang melanggar hak-hak Allah dan hak-hak manusia yang berfungsi untuk mendidik yang bersalah dan mencegah mereka mengulangi kejahatan yang sama.

Penentuan jenis peradilan pidana ini sepenuhnya diserahkan kepada pihak berwenang sesuai dengan hak asasi manusia.

Allah SWT telah menetapkan hukum uqubat (hukuman, sanksi, dan pelanggaran) dalam aturan Islam sebagai “pencegah” dan “penebus”.

Sebagai pencegah, karena berfungsi untuk mencegah manusia melakukan kejahatan; dan sebagai tebusan, karena dia bekerja untuk menebus dosa seorang Muslim dari siksaan Allah pada Hari Pengadilan.

Keberadaan Islam dalam Islam, yang bertindak sebagai pencegah, disebutkan dalam Al Qur’an: Dan di dalam qishash itu ada jaminan keselamatan bagi Anda, wahai orang bijak, yang mungkin Anda takuti. (QS. Al-Baqarah [2]: 179).

Yang dimaksud dengan “tidak ada jaminan hidup” sebagai akibat dari penerapan qishash adalah untuk melestarikan kehidupan rakyat, bukan kehidupan terpidana. Karena, baginya itu adalah kematian.

Sedangkan bagi orang-orang yang menyaksikan eksekusi hukuman (untuk yang masuk akal) tentunya tidak akan berani membunuh, karena konsekuensi pembunuhan harus dihukum mati.

Hal yang sama berlaku untuk hukuman lain, sebagai bentuk pencegahan kejahatan serius.

Yang dimaksud dengan tindak kriminal yaitu tindakan yang dianggap tercela oleh hukum.

Oleh karena itu, suatu tindakan tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal, kecuali ditentukan melalui nash syara ‘(Al-Qur’an, hadis, dan apa pun yang ditunjuk olehnya).

Jika seseorang melanggar perintah/larangan Allah, ia telah melakukan tindakan tercela, dan dianggap telah melakukan kejahatan, dan harus dihukum karena kejahatannya.

Karena tanpa pengenaan hukuman terhadap pelanggar, hukum tidak akan memiliki makna apa pun. Perintah tidak ada nilainya jika tidak ada retribusi (hukuman) bagi pelaku yang mengabaikan perintah.

Hukum Islam telah menjelaskan bahwa penjahat akan menerima hukuman, baik di dunia maupun di akhirat. Allah akan menghukum mereka di akhirat, dengan hukuman yang jelas, seperti yang Dia katakan:

Dan mereka yang kafir di neraka akan menjadi milik mereka. Mereka tidak dihancurkan sampai mereka mati dan hukuman mereka tidak ringan. (QS. Faathir [35]: 36)

Dengan demikian, ada banyak ayat yang menggambarkan siksaan siksaan Tuhan di akhirat, untuk orang berdosa. Bagi mereka yang memperhatikannya, akan mengerikan untuk menganggap enteng semua hukuman di dunia.

Namun, Allah Maha Pemurah. Untuk hamba-Nya yang percaya pada semua janji-Nya, Dia memberikan alternatif yang dapat “menebus” dosa-dosanya di akhirat, dalam bentuk serangkaian hukum pidana di dunia.

Allah telah menjelaskan dalam Alquran dan Hadis, baik secara global maupun rinci, hukum pidana setiap kriminal. Seperti: mencuri, berbuat zina, mabuk, merontokkan gigi orang lain, dan sebagainya.

Allah memberikan wewenang eksekusi kepada Imam (Khalifah: pemimpin tunggal semua Muslim) dan wakilnya (hakim), yaitu, dengan menerapkan sanksi yang ditentukan oleh Negara Islam (Khilafah), dalam bentuk hudud, tazir , atau kafarat (denda). Hukuman ini akan mengakhiri siksaan di akhirat.

Dalilnya, adalah apa yang Imam Bukhari diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, yang mengatakan bahwa Rasulullah (saw) bersabda:

“Kalian berbai’at kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak membuat-buat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, dan tidak bermaksiat dalam kebaikan.

Siapa saja yang menepatinya maka Allah akan menyediakan pahala; dan siapa saja yang melanggarnya kemudian dihukum di dunia, maka hukuman itu akan menjadi penebus baginya.

Dan siapa saja yang melangggarnya kemudian Allah menutupinya (tidak sempat dihukum di dunia), maka urusan itu diserahkan kepada Allah.

Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksanya. Dan jika Allah berkehendak, maka Dia akan memaafkannya.”

Karena itu, tidak biasa bagi kita untuk bertemu dalam sejarah, umat muslim yang mencari hukuman di dunia, bahkan jika hanya dia dan Allah yang tahu dosa yang dia lakukan.

Mereka rela menanggung rasa sakit cambuk, sengatan (untuk dihukum sebagai pezina yang sudah menikah), potong tangan, atau hukuman mati, untuk mendapatkan keridhoan Allah di akhirat.

Jenis Jarimah

jenis-jenis jarimah
pixabay.com

Jenis-jenis tindak kriminal (Jarimah) dalam Islam dapat dilihat dari berat ringannya hukuman yang terbagi menjadi tiga, yaitu hudud, qishosh diyat dan ta’zir.

Baca juga: pengertian hukum islam

1. Jarimah Hudud.

Yakni tindakan melanggar hukum dan jenis hukuman ditentukan oleh nas yaitu hukuman had (hak Allah). Hukuman had sebagaimana dimaksud tidak memiliki batas terendah dan tertinggi dan tidak dapat dihapuskan oleh individu (korban atau wali) atau perwakilan masyarakay (ulil amri).

Para ulama sepakat bahwa ada tujuh kategori dalam Jarimah Hudud, yaitu perzinahan, menuduh zina (qodzf), mencuri (sirq), perampok dan penyamun (hirobah), minum minuman keras (surbah), dan kemurtadan (riddah).

2. Jarimah Qishosh Diyat.

Yaitu tindakan yang diancam dengan hukuman qishosh dan diyat. Baik qishosh dan diyat adalah hukuman yang telah ditentukan batasannya, tidak ada batas terendah dan tertinggi tetapi merupakan hak individu (korban dan wali), ini berbeda dengan hukuman yang telah menjadi hak Allah.

Penerapan hukuman diish qishosh ada beberapa kemungkinan, seperti hukuman qishosh bisa berubah menjadi hukuman diyat, hukuman diyat jika dimaafkan akan dihapus.

Termasuk dalam kategori jarimah qishosh diyat termasuk pembunuhan yang disengaja, pembunuhan semi-disengaja, pembunuhan keliru, penganiayaan yang disengaja dan penganiayaan salah (jarh khotho’).

3. Ta’zir

Jarimah hudud dapat pindah ke Jarimah Ta’zir jika ada syubhat, baik itu syubhat, fi alli, fi al fa’il, atau fi al mahal. Demikian juga, jika Jarimah hudud tidak memenuhi persyaratan, seperti percobaan pencurian dan percobaan pembunuhan.

Bentuk jarimah ta’zir lainnya adalah kejahatan yang bentuknya ditentukan oleh ulil amri sesuai dengan nilai-nilai, prinsip dan tujuan syari’ah. Seperti peraturan lalu lintas, pelestarian lingkungan, sanksi terhadap pejabat pemerintah yang tidak disiplin dan lain-lain.

Ta’zir adalah mashdar (kata dasar) dari “azzaro” yang berarti menolak dan mencegah kejahatan, juga berarti memperkuat, memuliakan, membantu. Ta’zir juga berarti hukuman dalam bentuk memberikan pelajaran.

Disebut ta’zir, karena hukuman itu sebenarnya mencegah orang yang dihukum kembali ke jarimah, atau dengan kata lain membuatnya jera.

Sedangkan fuqoha mengartikan ta’zir dengan hukuman yang tidak ditentukan oleh Al-Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak-hak Allah dan hak hamba yang bertugas memberi pelajaran kepada yang terpidana dan mencegahnya dari mengulangi kejahatan serupa .

Ta’zir sering disamakan dengan fuqoha dengan hukuman bagi setiap orang berdosa yang tidak diancam dengan had atau kaffarat.

Dapat juga dikatakan, bahwa ta’zir adalah Jarimah yang diancam dengan hukuman ta’zir (selain memiliki dan qishash diyat).

Penerapan hukuman ta’zir, apakah jenis larangan ditentukan oleh ayat tersebut atau tidak, apakah tindakan itu melibatkan hak-hak Allah  atau hak-hak individu. Hukuman itu sepenuhnya diserahkan kepada pihak berwenang.

Hukuman dalam Jarimah Ta’zir tidak ditentukan oleh ukuran atau kadarnya, yang berarti untuk menentukan batas terendah dan tertinggi diserahkan sepenuhnya kepada hakim (penguasa).

Dengan demikian, syariat mendelegasikan kepada hakim untuk menentukan bentuk dan bentuk hukuman kepada para pelaku Jarimah.

Abd Qodir Awdah membagi jarimah ta’zir menjadi tiga, yaitu:

  • Jarimah hudud dan qishash diyat yang mengandung unsur shubhat atau tidak memenuhi persyaratan, tetapi telah dianggap sebagai tindakan tidak bermoral. Seperti pencurian harta syirkah, pembunuhan ayah terhadap anaknya, dan pencurian non-properti.
  • Jarimah ta’zir yang jenis jarimahnya ditentukan oleh nas, tetapi sanksi oleh syariah diserahkan kepada pihak berwenang. Seperti sumpah palsu, saksi palsu, mengurangi timbangan, menipu, melanggar janji, mengkhianati mandat, dan menghina agama.
  • Jarimah ta’zir di mana jenis jarimah dan sanksi-sanksinya sepenuhnya menjadi wewenang penguasa untuk merealisasikan keuntungan rakyat. Dalam hal ini unsur moralitas menjadi pertimbangan terpenting. Misalnya pelanggaran peraturan lingkungan, lalu lintas, dan pelanggaran pemerintah lain.

Akhir Kata

Demikianlah penjelasan tentang hukum pidana menurut agama islam. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari artikel ini.

Dabith Sibghotullah Penulis bernama lengkap Muhammad Dabith Sibghotullah. Biasa dipanggil dengan mas Dabith, atau ketika dulu di pesantren dapet panggilan mas Dabay yang mempunyai makna filosofinya tersendiri. Tapi sebenarnya lebih senang kalau di panggil sayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *