Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

√5 Kedudukan Istimewa Untuk Alquran

6 min read

kedudukan alquran

Seperti yang kita ketahui, kedudukan Alquran berfungsi sebagai pedoman bagi umat Islam. Al-Qur’an juga mengandung dan membawakan nilai-nilai yang membudayakan manusia, hampir dua pertiga ayat-ayat al-Qur’an mengandung motivasi kependidikan bagi umat Islam.

Dan di bawah ini akan di jelaskan tentang kedudukan istimewa untuk alquran bagi kehidupan.

Selamat membaca.

“Seberapa dekat hatimu dengan qur’an, sangat tergantung dari caramu memuliakan dan memandang Alquran”

Kedudukan Alquran Dalam Islam

kedudukan alquran dalam islam
widiutami.com
  1. Al-Qur’an sebagai sumber berbagai ilmu keislaman.

Beberapa ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an di antaranya yaitu:

  • Ilmu Tauhid (Teologi)
  • Ilmu Hukum
  • Ilmu Tasawuf
  • Ilmu Filasafat Islam
  • Ilmu Sejarah Islam
  • Ilmu Pendidikan Islam
  1. Al-Quran sebagai Wahyu Allah SWT, yaitu seluruh ayat Al-Qur’an adalah wahyu Allah, tidak ada satu kata pun yang datang dari perkataan atau pikiran Nabi.
  2. Kitabul Naba wal akhbar (Berita dan Kabar) arinya, Al-Qur’an merupakan khabar yang di bawah nabi yang datang dari Allah dan di sebarkan kepada manusia.
  3. Minhajul Hayah (Pedoman Hidup), sudah seharusnya setiap Muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan terhadap setiap problem yang di hadapi.
  4. Sebagai salah satu sebab masuknya orang arab ke agama Islam pada zaman rasulullah dan masuknya orang-orang sekarang dan yang akan datang.
  5. Al-Quran sebagai suatu yang bersifat Abadi artinya, Al-Qur’an itu tidak akan terganti oleh kitab apapun sampai hari kiamat baik itu sebagai sumber hukum, sumber ilmu pengetahuan dan lain-lain.
  6. Al-Qur’an di nukil secara mutawattir artinya, Al-Qur’an disampaikan kepada orang lain secara terus-menerus oleh sekelompok orang yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta karena banyaknya jumlah orang dan berbeda-bedanya tempat tinggal mereka.
  7. Al-Qur’an sebagai sumber hukum, seluruh mazhab sepakat Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam menetapkan hukum, dalam kata lain bahwa Al-Qur’an menempati posisi awal dari tertib sumber hukum dalam berhujjah.9
  8. Al-Qur’an di sampaikan kepada nabi Muhammad secara lisan artinya, baik lafaz ataupun maknanya dari Allah SWT.
  9. Al-Qur’an termaktub dalam mushaf, artinya bahwa setiap wahyu Allah yang lafaz dan maknanya berasal dari-Nya itu termaktub dalam mushaf (telah di bukukan).
  10. Agama islam bersama dengan al qur’annya membuka lebar-lebar mata manusia agar mereka manyadari jati diri dan hakikat hidup di muka bumi.

Kedudukan Hukum Dalam Alquran

kedudukan alquran dalam hukum islam
shanehijab.com

Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber kedudukan Hukum Syariat, solusi absolut, up to date sepanjang masa bagi kejumudan dan kebuntuan perkara yang sulit mendapatkan jalan keluar.

Al-Qur’an dan As-Sunnah senantiasa dipelajari, ditadaburi, dianalisis, ditinjau ulang oleh para Alim Ulama’, selalu dipegang erat-erat oleh mereka, dan diajarkannya pada generasi penerus sebagai estafeta da’wah kenabian yang tidak mengenal lelah.

Namun amat manusiawi yang sulit dipungkiri, bahwa betapapun mereka kalangan para Alim hidup selalu bersama Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang selalu mereka pelajari dan ajarkan pada generasi penerusnya.

Tetapi tatkala pada kehidupan mereka terjadi kasus yang menyulitkan yang kasus dan masalahnya tidak mereka jumpai di dalam kitab suci Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Mereka berkumpul merumuskan solusi mencari jalan keluar, sekuat daya nalar yang mereka miliki, bekerja keras berfikir, adu argument sesama mereka, berdebat melalui penafsiran-penafsiran.

Melakukan pendekatan hukum dari ayat satu ke ayat yang lain, pendekatan hukum dari riwayat satu ke riwayat yang lain, lelah, letih, tidak mereka pedulikan dan tidak jarang mereka melakukan pendekatan qiyas (analogi).

Sehingga melahirkan kesepakatan hukum yang diakui secara aklamasi utuh kesepakatan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, berupa ijma’ ulama’dan qiyas nya para Sahabat ridwanullah a’laihim ajma’iin.

Meskipun akhirnya melahirkan perbedaan cara pandang Fiqh (Furuu’) dan interpretasi logika yang sangat terasa ditubuh Ummat Islam, namun pada masalah ushul mereka tetap bersepakat untuk sama dan sefaham.

Kedua dua Hukum ini diakui oleh seluruh ummat islam sejauh tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka dengan demikian lengkaplah sudah demi menjaga keabsahan, kesempuranaan, dan kemuliaan Syariat Islam, Al-Islam itu sendiri terbentengi oleh empat (4) pilar Hukum Syariat:

  • Al-Qur’an.
  • As-Sunnah.
  • Ijmaa’ Ulama’
  • Qiyaas para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Kedudukan Alquran Sebagai Hukum Islam

kedudukan alquran dalam hukum islam
quranicquotes.com

Karena menjadi sumber hukum Islam, Al-Qur’ān mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Al-Qur’ān menjadi sumber utama dan pertama sehingga semua harus ada dan berpedoman membantah. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an: (QS an-Nisā ‘/ 4: 59)

Para ulama mengelompokkan hukum yang ada dalam Alqur’an ke dalam tiga bagian, seperti berikut.

  • Akidah atau Keimanan

adalah keyakinan yang paling kuat di hati. Akidah berlangganan dengan keimanan terhadap hal-hal yang gaib yang terangkum dalam rukun iman (arkanu man).

  • Syari’ah atau Ibadah,

Hukum Penyanyi mengatur tentang tata cara ibadah baik yang berhubungan langsung dengan al-Khaliq (Pencipta), yaitu Allah SWT.

Yang disebut ‘ibadah maḥḍah, yang terkait dengan sesama, yang disebut dengan ibadah gairu maḥḍah. Ilmu yang membahas tata cara ibadah dinamakan ilmu fikih.

Hukum Ibadah, hukum ini sesuai dengan ajaran Islam. Hukum Suami mengandung Perintah untuk mengerjakan salat, haji, zakat, puasa, Dan Lain sebagainya.

Hukum Mu’amalah, hukum Penyanyi mengatur Interaksi antara manusia dan sesamanya, seperti hukum tentang tata cara jual-beli, hukum pidana, hukum perdata, hukum warisan, pernikahan, politik, Dan Lain sebagainya.

  • Akhlak atau Budi Pekerti.

Al-Qur’ān menuntun bagaimana manusia berakhlak atau berperilaku, baik berakhlak kepada Allah Swt., Bagi sesama manusia, akhlak terhadap Allah Swt.

Yang terletak, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Hukum ini tecermin dalam konsep manusia, tampak dari awal, tangan, dan kaki.

Kedudukan Alquran Bagi Manusia

kedudukan alquran bagi manusia
sintesa.net

Allah SWT menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk untuk kehidupan manusia. Dengan al-Qur`ân Allah Azza wa Jalla membukakan hati yang tertutup, mata yang buta, dan telinga yang tuli.

Keajaiban-keajaiban al-Qur’an tidak pernah habis, tidak pernah usang walaupun sering diulang sepanjang siang dan malam.

Tadabbur (memperhatikan) al-Qur’an akan melahirkan ilmu yang banyak dan bermanfaat. Dengannya akan dibedakan antara kebenaran dengan kebatilan, iman dengan kekafiran, manfaat dengan madharat.

Kebahagiaan semu dengan kebahagiaan hakiki, calon penghuni surga dengan penghuni neraka, dan sebagainya.

Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentadabburi ayat-ayat-Nya.

Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah berkata, “Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), ‘Al-Qur’an ini ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, wahai Muhammad, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, agar mereka memperhatikan hujjah-hujjah Allah Azza wa Jalla serta syari’at-syari’at yang ditetapkan di dalamnya, kemudian mereka mendapat pelajaran dan mengamalkannya’”. (Tafsir ath-Thabari, 21/190)

Petunjuk Adalah Dengan Mengikuti Al-Qur’an

Barangsiapa mengikuti al-Qur’an, Allah Azza wa Jalla telah menjanjikan petunjuk dan keamanan, sebaliknya orang yang berpaling darinya akan tersesat dan celaka. Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam Alquran (Thaha 20:123-124)

Pada ayat di atas Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Adam, Hawa dan Iblis, “Turunlah kamu semua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain”, maksudnya Adam dan keturunannya akan menjadi musuh Iblis dengan keturunannya.

Firman Allah Azza wa Jalla, “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku”, maksudnya para nabi, para rasul, dan penjelasan.

Firman Allah Azza wa Jalla, “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”, maksudnya tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.

Firman Allah Azza wa Jalla, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku”, maksudnya menyelisihi perintah-Ku dan perintah yang Aku turunkan kepada rasul-Ku dengan berpaling darinya, melupakannya, dan mengikuti petunjuk selainnya.

“Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”, maksudnya di dunia, dia tidak memperoleh ketenangan dan kelapangan dada, dadanya menjadi sempit, sesak karena kesesatannya; walaupun dia bersenang-senang secara lahiriyah, berpakaian, makan, dan tinggal sekehendaknya.

Namun, selama hatinya tidak mencapai keyakinan dan petunjuk, maka dia selalu berada di dalam kegelisahan, kebingungan, dan keraguan.

Ini termasuk kesempitan hidup. Demikian juga termasuk penghidupan yang sempit adalah siksa kubur.

Neraka Bagi Orang Yang Mengingkarinya

Kebahagiaan hakiki akan diraih oleh orang-orang yang mengikuti al-Qur’an. Sebaliknya, orang yang mengingkarinya, Allah Azza wa Jalla mengancamnya dengan neraka, dan neraka adalah seburuk-buruk tempat menetap.

Allah Azza wa Jalla berfirmam dalam surah (Hud 11:17)

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, “Firman Allah Azza wa Jalla, “Dan barangsiapa kafir kepadanya”, maksudnya kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang mengatakan kepada al-Qur’an, “Dan sekutu-sekutunya”, yaitu dari kalangan orang-orang kafir dari semua pemeluk agama, “Maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya”. (Tafsir al-Baghawi 4/167)

Berpaling Dari Al-Qur’an Seperti Keledai

Allah Azza wa Jalla menyerupakan orang-orang kafir yang berpaling dari al-Qur’an seperti keledai yang berpaling dan kabur dari seekor singa! Alangkah buruknya permisalan bagi mereka itu!

Maksudnya, mengapa orang-orang kafir yang berada di hadapanmu berpaling dari apa yang engkau seru dan peringatkan kepada mereka,

“Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa”, maksudnya, lari dan berpalingnya mereka dari kebenaran seolah-olah keledai liar yang lari dari singa yang akan memburunya atau dari seorang pemburu. (Lihat Imam Ibnu Katsir pada tafsir ayat ini; Muqaddimah Tafsiir Adhwaul Bayan)

Kedudukan Alquran Dan Sunnah Dalam Mengatasi Masalah

kedudukan alquran dalam mengatasi masalah
idntimes.com

Ditinjau dari karakter masalah yang terjadi, dan Alim Ulama telah melakukan penelitian terhadap kasus yang sedang dihadapi.

Kemudian menindak lanjuti Hukum yang akan diberlakukan pada setiap kejadian pada ummat, maka Hukum Ijtihaad terpusat pada tiga Hukum pilihan berdasarkan kesepakatan Ulama:

  • Pertama:

Wajib A’in bagi yang bertanggung jawab atas kasus/masalah yang terjadi, dan dikhawatirkan kejadiannya berlalu tanpa kejelasan Hukum.

Demikian juga jikalau kasus/masalah telah terjadi pada diri seseorang, dan dia ingin mengetahui bagaimana status Hukumnya.

  • Kedua:

Wajib Kafaa’iy/kifaayah bagi yang bertanggungjawab atas kasus/masalah yang terjadi, dan tidak khawatir waktu kejadiannya berlalu.

Maka dalam kondisi seperti ini jikalau ditinggalkan berdosa semuanya, dan jikalau ada yang mewakili-nya, maka mencukupi.

  • Ketiga:

An-Nadeb (sunnah) untuk berijtihaad pada kasus/masalah yang belum terjadi, baik dipinta ataupun tidak dipinta.

Adapun Syarat Ijtihaad:

Pertama: Adil, berlaku untuk semua kalangan ummat.

Kedua: Mengusai Ilmu Syar’iy dengan baik dan benar, Al-Qur’an dengan Uluum dan Tafsiirnya, Al-Hadits dengan Mushtholah dan Ar-Rijaalnya, Al-Fiqh dengan Ushuulnya dll.

Seorang Mujtahid, tidak mesti hafal Al-Qur’an dan hafal ribuan Hadits meskipun hal itu merupakan keutamaan.

Namun ketika dia sanggup beristimbaat berdasarkan kemampuannya memahami nash-nash Al-Qur’an dan Al-hadits, dan berpijak pada Ijmaa’ Ulama (Konsensus), dan bersinergi dengan informasi Atsar Shohaabah (Analogi), maka apapun masalahnya/kasus atau problemnya akan selesai dengan baik dan benar.

Akhir Kata

Alhamdulillah pembahasan tentang kedudukan istimewa untuk Alquran telah selesai, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih telah membaca.

Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *