Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Khalifah Bani Abbasiyah Bukti Kejayaan Agama Islam

5 min read

khalifah bani abbasiyah

Menurut sejarah, Khalifah bani abbasiyah adalah masa kejayaannya agama islam. Dari Dinasti Abbasiyah inilah terlahir banyak sekali ilmuwan.

Nah, artikel kali ini akan membahas tentang Khalifah Bani Abbasiyah secara singkat.

Selamat membaca dan semoga dapat bermanfaat

Sejarah Khalifah Bani Abbasiyah

sejarah khalifah bani abbasiyah
pixabay.com

Sejarah

Bani Abbasiyah termasuk kekhalifahan atau pemerintahan dalam sejarah Islam yang memimpin pada tahun 32 H/750 M setelah Bani Umayyah jatuh di tangan pasukan Abu Abbas melalui pertempuran di suatu wilayah di Damaskus.

Khalifah bani Abbasiyah termasuk kekhalifahan terlama yang pernah memimpin sepanjang sejarah Islam, yaitu pada tahun 750-1258 M.

Masuknya dinasti ini ke dalam tahta kepemimpinan Umat Islam saat itu tidak lepas dari banyak faktor. Yaitu adanya sebagian rakyat yang memandang bahwa Dinasti Umayyah tidak berlaku adil dan hanya memihak kepada sebagian kelompok saja.

Ada juga sebagian kelompok yang merasa hak-haknya dirampas seperti kelompok Syiah. Dan juga orang-orang non-arab (Mawalli) yang tidak diberlakukan secara adil dengan dibebankan membayar pajak lebih besar dari orang arab.

Faktor-faktor tersebutlah yang membuat khalifah Bani Abbasiyyah mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak sampai memastikan kursi kekhalifahan pada waktu itu berpindah kekuasaan dari Bani Umayyah kepada Bani Abbasiyah dengan melalui perebutan daerah hingga menyisakan satu daerah kekuasaan Bani Umayyah, yaitu Andalusia.

Dinamakan Dinasti Bani Abbasiyah sendiri karena disandarkan kepada paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib.

Hal ini menunjukan pertalian yang erat antara keluarga Bani Abbas dengan Nabi Muhammad Saw. Kemudian, pusat pemerintahan Bani Abbasiyah sendiri berpusat di kota Baghdad.

Masa Kejayaan

Dinasti Bani Abbasiyah mengalami masa kejayaan pada awal-awal masa kepemimpinannya. Yaitu ketika Harun Ar Rashid yang memimpin Bani Abbasiyah pada tahun 786-809 M dan putranya yaitu Al Ma’mun yang menjabat pada tahun 813-833 M.

Pada masa kepemimpinan Harun Ar Rashid, hal yang paling diutamakan adalah sektor sosial dan kesehatan. Kemudian menjadikan banyaknya bangunan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit beserta penunjangnya yaitu berupa lembaga akademi pendidikan dokter dan farmasi.

Dan dari sektor kesehatan, kesejahteraan masyarakat terus ditingkatkan dan pendidikan untuk semua masyarakat sangat diutamakan. Peradaban islam semakin menguat dan tak tertandingi oleh siapapun pada masa ini

ketika pada masa kepemimpinan Al Ma’mun putra Harun Al Rashid, bidang pendidikan adalah hal yang paling utama yang diperhatikan. Saat kepemimpinannya, peradaban islam di bidang keilmuan mencapai masa keemasannya.

Salah satunya disebabkan kecintaan Al Ma’mun terhadap ilmu Filsafat, Khalifah Al Ma’mun menggalakkan penerjemahan buku filsafat barat ke dalam bahasa arab supaya mudah dipelajari.

Bahkan, Khalifah Al Ma’mun  rela membayar sebagian kalangan orang non-muslim untuk menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa arab. Dan kemudian, banyak sekali fasilitas pendidikan yang dibangun seperti madrasah dan lainnya.

Menjadi Pembaharu Ilmu Pengetahuan

Dan terbukti yaitu Baitul Hikmah yang kemudian menjadi pusat penerjemahan sekaligus perguruan tinggi yang dilengkapi dengan perpustakaan besar. Kepemimpinan al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Para cendekiawan pada masa Dinasti Abbasiyah melakukan banyak kajian keilmuan dengan cara menerjemahkan buku-buku dari Yunani lalu mempelajarinya. Dan dengan begitu ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan sangat pesat.

Dimulai sejak awal mula pemerintahan Bani Abbasiyah, ternyata banyak sekali perubahan yang telah dilakukan, lebih banyak dari masa pemerintahan sebelumnya yaitu Dinasti Bani Umayyah.

Pergantian kekuasaan dari Bani Umayyah ke Bani Abbasiyah bukan hanya sebatas perubahan kepemimpinan saja, akan tetapi juga mampu merubah banyak hal.

Dinasti Abbasiyah juga bisa membuktikan kepada sejarah bahwa Islam mampu mengembangkan refleksi kegiatan ilmiah dengan adanya pengembangan wawasan dan disiplin keilmuan.

Pada kepemimpinan Dinasti Abbasiyah inilah, pendidikan sangatlah merata dengan adanya madrasah-madrasah yang terbentang dari desa sampai kota. Oleh karenanya, tidak mengherankan perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah maju dan peradaban islam mencapai puncak kejayaannya.

Dinasti Abbasiyah dalam masa kepemerintahaannya telah melahirkan sebanyak tiga puluh tujuh khilafah yang berkuasa dalam kurun waktu yang cukup sangat panjang, yaitu sekitar tiga ratus tahunan.

Selama itu juga, perkembangan dunia islam sangat berkembang pesat dalam sektor dan bidan apapun, khususnya keilmuan.

Nama-Nama Khalifah Bani Abbasiyah

tokoh khalifah bani abbasiyah
pixabay.com
  1. Abu al-‘Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah(721 – 754)
  2. Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur(754-775)
  3. Muhammad bin Mansur al-Mahdi(775–785)
  4. Abu Muhammad, Musa bin Al-Mahdi al-Hadi(785-786)
  5. Harun Ar-Rasyid (786-803)
  6. Muhammad bin Harun al-Amin(787– 813)
  7. Al-Ma’mun ar-Rasyid (813-833)
  8. Abu Ishaq al-Mu’tasim bin Harun(833 – 842)
  9. Watsiq bin Mu’tasim (842-847)
  10. Al-Mutawakkil(821-861)
  11. Al-Muntashir (861hingga 862)
  12. Al-Musta’in (862-866)
  13. Al-Mu’tazz (866-869)
  14. Al-Muhtadi (869-870)
  15. Al-Mu’tamid Alallah (870-892 M)
  16. Al-Mu’tadhid Billah(857-902)
  17. Al-Muktafi (875-908)
  18. Al-Muqtadir(895-932)
  19. Abu Manshur Muhammad Al-Qahir Billah (932-934)
  20. Ar-Radhi Billah (934-940)
  21. Al-Muttaqi Billah (940-944)
  22. Al-Mustakfi (944-946)
  23. Al-Muthi’ Lillahi (946-974)
  24. At-Ta’I (974-991)
  25. Al-Qadir Billah ( 991-1031)
  26. Al-Qa’im Biamrillah (1031-1075)
  27. Al-Muqtadi (1075-1094)
  28. Al-Mustazhir(1078-1118)
  29. Al-Mustarsyid Billah(1092–1135)
  30. Al-Muqtafi Liamrillah(1136-1160)
  31. Al-Mustanjid(1115–1170)
  32. Al-Mustadhi’ Liamrillah(1142 – 1180)
  33. An-Nashir Lidinillah(1158 – 1225)
  34. Az-Zahir (1225-1226)
  35. Al-Musta’shim Billah (1242-1258)

Tokoh Ilmuwan Pada Masa Khalifah Bani Abbasiyah

ilmuwan khalifah bani abbasiyah
pixabay.com
  1. Ibnu Sina (370 – 428 H/980 – 1073 M)

ibnu sina
thesciencefaith.com

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibnu Abdillah Ibn Sina. Dalam dunia barat beliau dikenal dengan nama Avvicenna. Lahir pada Shafar 370 H/Agustus 980 M di Ifsyina (negeri kecil dekat Charmitan), suatu tempat dekat Bukhara.

Ibnu Sina mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, umur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan istana beliau pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya.

Sejak saat itu Ibnu Sina mendapat akses untuk mengunjungi perpustakaan istana yang terlengkap yaitu Kutub Khana.

Ibnu Sina dikenal sebagai Bapak Kedokteran Dunia, kitabnya yang terkenal adalah Qanun fi Al-Thibb (Dasar-Dasar Ilmu Kedokteran). Ia juga menulis buku berjudul Asy-Syifa’ dan An-Najat.

Ibnu Sina adalah orang pertama yang menemukan peredaran manusia, dimana enam tahun ratus kemudian disempurnakan oleh William Harvey.

Ibnu Sina jugalah yang mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makannya lewat tali pusarnya.

Ibnu Sina juga yang pertama kali mempraktekkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas dan menjahitnya. Dan ia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa yang kini disebut psikoterapi.

  1. Al-Farabi (870 M – 950 M)

Al farabi
bloganaksaleh.blogspot.com

Al-Farabi adalah sebutan untuk Abu Nasr Ibnu Muhammad ibnu Tarkhan ibnu Auzalagh. Al-Farabi dilahirkan di sebuah desa bernama Wasij yang merupakan distrik dari kota Farab. Saat ini kota Farab dikenal dengan nama kota Atrar/Transoxiana tahun 257 H/870 M.

Al-Farabi oleh orang-orang latin abad tengah dijuluki dengan Abu Nashr (Abunaser), sedangkan julukan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, tempat ia dilahirkan.

Sejak muda, Al-Farabi sudah memutuskan  hijrah ke Baghdad yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan.

Di Baghdad ia belajar kepada Abu Bakar Al-Saraj untuk mempelajari kaidah bahasa Arab, dan kepada Abu Bisyr Mattius ibnu Yunus (seorang kristen) untuk belajar logika dan filsafat. Al-farabi dikenal sebagai Guru Kedua dalam filsafat, Al-Farabi memasukkan ilmu logika dalam kebudayaan Arab.

  1. Ibnu Rusyd (526-595 H/1126-1198 M)

ibnu rusyd
dingkelik.net.khalifah

Nama Ibnu Rusyd adalah Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd. Berasal dari keturunan Arab kelahiran Andalusia.

Ibnu Rusyd lahir di kota Cordova tahun 526-595 H atau 1126-1198 M. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga ahli fiqh. Ayahnya seorang hakim. Demikian juga kakeknya sangat terkenal dengan sebagai ahli fiqh.

Sang kakek dengan cucunya mempunyai nama yang sama, yaitu Abu al-Walid. Maka untuk membedakannya, sang kakek dipanggil Abul Walid al-Jadd (kakek), sedang sang cucu Abul Walid al-Hafidz.

Dari usianya yang sangat muda, Ibnu Rusyd sudah belajar ilmu fiqh, ilmu pasti dan ilmu kedokteran di Sevilla kemudian berhenti dan pulang ke Cordova untuk melakukan studi, penelitian, membaca buku-buku dan menulis.

Dan saat usianya 18 tahun Ibnu Rusyd bepergian ke Maroko, di mana ia belajar kepada Ibnu Thufail. Di bidang ilmu Tauhid (teologi) ia berpegang pada paham Asy’ariyah dan hal ini tetap memberikan jalan baginya untuk mempelajari ilmu filsafat.

Ringkasnya Ibnu Rusyd adalah seorang yang ahli dalam bidang filsafat, agama, syari’at, dan kedokteran yang terkenal pada masa itu.

Ibnu Rusyd juga mempelajari matematika, astronomi, filsafat, dan kedokteran kepada Ibnu Basykawal, Ibnu masarroh dan Abu Ja’far Harun.

Orang barat lebih mengenalnya dengan nama Averroes, lewat karyanya yaitu Al-Kulliyat yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd sangat berpengaruh di negara-negara Eropa, dan banyak dikaji di tingkat universitas. Ia termasuk tokoh muslim yang ahli dalam bidang filsafat dan kedokteran.

  1. Al-Khawarizmi (780 M – 850 M)

al kwarismi
lowellmilkencenter.org

Al Khawarizmi adalah seorang sarjana besar di antara sarjana masyhur pada masanya dan mempunyai jasa mengenalkan sistem penomoran india yang bermanfaat untuk bangsa Arab dan dunia Barat.

Nama sebenarnya al-Khawarizmi ialah Muhammad Ibn Musa al-khawarizmi. Al-Khawarizmi terkenal di Barat sebagai al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Beliaulah yang menemukan Al Jabru wal Mukobala (penjabaran dan penyelesaian). Di nama latinkan menjadi Aljabar.

Al-Khawarizmi dikenal dengan teori Algoritmanya. Selain itu, ia juga menciptakan teori matematika lain. Misalnya, Aljabar, yang disebut matematika ilmu Hitung. Pada waktu itu seseorang tidak bisa di sebut sebagai ahli matematika jika tidak mampu menganalisa karya ilmiah para ahli matematika dulu.

Al-Khawarizmi juga menghasilkan ilmu dibidang astronomi, ia membuat sebuah tabel khusus yang mengelompokan ilmu perbintangan. Pada awal Abad XII, sejumlah karya al-Khawarizmi diterjemahkan dalam bahasa latin aleh Adelard Of Bal dan Gerard Of Cremona.

Di berbagai Universitas di Eropa telah menggunakan buku karya al-Khawarizmi sebagai bahan acuan dan buku tugas pelajaran untuk para Mahasiswa hingga memasuki pertengahan abad ke XVI.

  1. Al-Ghazali (1058 M/450 H – 1111 M/ 505 H)

Al Ghozali
law-justice.co

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Al Ghazali mulai berjuang mencari ilmu sejak masa kecilnya yaitu Ilmu Fiqih kepada Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Ar-Rodhakoni di kota Baghdad, lalu Al-ghazali melanjutkan studinya ke negara Jurjan, beliau belajar kepada Al-Imam Abi Nashr Al-isma’ili.

Kemudian Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Kota Naysabur untuk mencari ilmu kepada Al-Imam Al-Haromain Mufti Kota Mekkah dan Madinah.

Beliau mulai menuntut ilmu sejak masa kecilnya yaitu mempelajari Ilmu Fiqih dari Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Ar-Rodhakoni di kota Baghdad.

Al-ghazali melanjutkan studinya ke negara Jurjan, beliau belajar kepada Al-Imam Abi Nashr Al-isma’ili, Kemudian Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Kota Naysabur untuk menimba ilmu kepada Al-Imam Al-Haromain Mufti Kota Mekkah dan Madinah.

Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *