Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Sebuah Jejak Pendakian

4 min read

phinemo.com

Pendakia?ketika mendengar kata pendakian,apasih yang terbesit dalam diri kita tentang pendakian?boros uang?nge habisin waktu?pingin dikira keren?bikin capek?dan lain lain.

Bener gak sih?iya bener, tapi itu bagi orang orang yang belum pernah sama sekali mencoba melakukan sebuah pendakian,bagi para pendaki itu semua hanyalah cobaan bagi mereka, karena sesungguhnya ketika sudah memulai sebuah pendakian pasti akan menemukan ‘sesuatu’ yang belum pernah didapatkan sebelumnya.

Nah, kali ini saya akan berbagi kisah tentang pendakian perdana saya dan teman teman saya ,semoga bermanfaat.

Persiapan Bagi Pendaki Awal

maioloo.com

Ketika itu saya masih duduk di kelas 2 SMP, tepatnya di Smp It Nurul Islam Tengaran Boarding School ,saya menjadi seorang santri disana.

Bagi para santri pasti tidak asing dengan kata pendakian, karena memang seorang santri identik dengan seorang pendaki, atau di sebuah pondok pesantren pasti ada salah satu santrinya seorang leader pendaki.

Kalo gak ada, kurang lengkap rasanya untuk menjadi seorang santri kalo tidak ada salah satu santrinya seorang pendaki.

Benar saja, saya mendapati seorang teman saya seorang pendaki atau dia dari keluarga pendaki, saya kemudian dikenalkan olehnya tentang dunia pendakian.

Awalnya memang membingungkan, tapi ketika dia mulai bercerita ada rasa nyaman untuk di dengarkan, ada rasa tenang ketika di ceritakan, seperti melihat sebuah film ketika dia berbicara.

Begitu seru kata saya dalam hati, dari perkataanya saja sudah sedemikian antusias nya dia bercerita, pasti berkenang sekali ketika dia melakukannya ,batin saya.

Izin Ke Orang Tua

@generasipendaki

Maka sejak saat itu, saya selalu bertanya tentang pendakian kepada dia, Sutan namanya, saya bertanya banyak hal tentang gunung ,pasti dia nyambung, dari suasananya, dari persiapannya, bahkan dari hal hal mistis pun dia paham.

Maka ketika menjelang liburan semester, saya diajak Sutan dan lima santri lainnya untuk memulai sebuah pendakian, saat itu dari kami ber tujuh hanya Sutan yang pernah mendaki gunung.

Dan tujuan pendakian pertama kali untuk kami adalah gunung Ungaran.

Kami sama sekali belum pernah mendaki, hanya sering mendengarkan dari ceritanya, atau lebih tepatnya, ini akan menjadi sebuah pendakian perdana bagi kami.

Ternyata ketika ingin memulai sebuah pendakian, banyak sekali yang perlu disiapkan,apalagi kami sebagai pendaki pemula, terutama izin dengan orang tua.

Karena tidak semua orang tua ‘care’ dengan sebuah pendakian, lagi-lagi karena mereka belum paham apa itu hakikat sebuah pendakian.

Maklum, karena mereka sayang sama kita,jadi banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengizinkan kami  berangkat memulai sebuah pendakian.

Karena sebuah pendakian bukan hanya sekedar mendaki sebuah gunung, tapi ini juga masalah perjalanan hati, butuh jiwa yang ikhlas, butuh mental yang kuat, karena dengan itu semua akan menemukan sebuah perjalanan yang bermakna dan berkualitas.

Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang untuk mendapatkan perizinan, apalagi harus meyakinkan kedua orang tua kami dengan dalih dalih dari Sutan, akhirnya sebagian dari kami ada yang berhasil mendapat izin dari orangtua.

Iya, ada dua santri dari kami yang tidak mendapat izin, mungkin karena orang tuanya sayang banget sama mereka jadi takut kalo anak nya kenapa napa, bukan berarti yang dapat izin dari orangtuanya nggak sayang sama kami lho ya.

Karena sesungguhnya ridho Allah itu ada di ridho orang tua, jadi demi kebaikan bersama, kami sebagai sorang santri yang baik dan taat, InsyaAllah,maka yang dua santri itu tidak bisa ikut untuk pendakian pertama ini.

Membuat Rencana Pendakian

deskgram.net

Pekan terakhir sebelum liburan semester telah tiba, kami yang jadinya ber enam, segera menyusun rencana pendakian, dipimpin langsung oleh leadernya, Sutan.

Walau masih kelas dua SMP tapi dia sudah mempunyai jiwa kepemimpinan, dan kami harus kompak untuk membuat rencana pendakiannya.

Mulai dari perlengkapan apa saja yang harus di bawa, dari pembagian peralatan kelompok, logistik apa saja yang akan dibeli kemudian dari setiap individu.

Semua harus direncanakan dengan matang sebelum memulai sebuah pendakian.

Tak lupa kami juga membagi tugas untuk belanja makanan, membeli barang yang dibutuhkan, mencari peralatan yang kurang.

Pokoknya selama sepekan itu kami aktif untuk mempersiapkan pendakian, karena sebagai pendaki pemula, kami takut kalo nanti ada barang yang tidak lengkap, akan bermasalah di tengah jalan

Oleh karena itu,setiap apa saja yang dibutuhkan kami bawa.

Sampai semuanya sudah benar benar lengkap, kami kamudian mencari informasi tentang gunung yang akan kita daki, dan itu wajib bagi seorang pendaki.

Tentang basecamp nya, tentang desa terakhirnya, tentang mata air di tempat yang akan kami lewati, tentang akulasi waktu yang kira kira akan kami tempuh untuk memulai mendaki, tentang pemandangannya yang akan kami lihat nanti ketika sudah sampai puncak.

Pokoknya semua informasi tentang gunung yang akan kami daki, kami bagikan bersama untuk membuat rencana pendakiannya.

Oblrolan Seorang Pendaki

Sampai akhirnya satu hari sebelum berangkat, ketika rencana pendakian sudah sempurna kami buat, kami sudah mulai populer dikalangan santri, iya Karena pada tahun itu, mendaki sebuah gunung belum setenar tahun sekarang (2019), bahkan para asatidz atau guru disana juga mulai bertanya-tanya tentang kami.

Tapi bukan pendaki namanya kalo tidak punya mental yang kuat, bukan pendaki namanya kalo tidak punya semangat yang membara, dan tidak kalah penting, bukan pendaki namanya kalo tujuan nya bukan tentang tadabbur alam atau merenungi ciptaan yang Allah berikan.

Malam hari nya kami tidur di asrama, dan malam itu kami semua susah untuk menutup mata kami, iya karena besok pagi perjalanan kita akan segera dimulai.

Perjalanan yang di nanti nanti dari tiga bulan terakhir, perjalanan yang akan mendidik sebuah hati,perjalanan yang akan mengubah jiwa dan pikiran,dan besok adalah waktunya.

Kami masih aja asyik ngobrol, dan dari kami ber enam, yang sudah tidur baru satu orang, Ikhlas namanya.

Oh iya, saya perkenalkan ke empat temen saya yang akan memulai pendakian besok.

Yang pertama sang leader atau pemimpinnya kami semua yaitu Sutan, semua kebutuhan sudah di siapkan olehnya ,dari mobilnya,sebagian logistiknya, perlengkapan kelompoknya, rata rata dari dia semua, karena memang  dia yang sudah berpengalaman mendaki gunung.

Yang kedua namanya Sultan, bedanya Sutan nggak ada “l” nya, kalo Sultan ada, nah Sultan ingin mendaki ya karena ada saya, hehe, kalo nggak saya ajak pasti dia gak bakal mau, katanya kalo nggak ada saya nggak seru, padahal sebenarnya temen deket nya Sultan hanya saya, makanya dia mau ikut.

Yang ke tiga namanya Ikhlas, nanti sebelum memulai pendakian, kami akan mampir di rumahnnya Ikhlas, karena dari rumah nya ke basecamp tidak begitu jauh.

Yang terakhir namanya Reza, dari kita ber lima, Reza lah yang paling bersemangat dalam pendakian kali ini, iya karena sebelum berangkat dia sudah membeli perlengkapan mendaki, sudah seperti pendaki professional dia.

Hakikat Seorang Pendaki

Nah, itulah kami, santri kelas dua SMP yang ingin melihat kuasa Allah di atas ketinggian.

Yang kata orang orang masih terlalu dini untuk melakukan sebuah pendakian tanpa ada yang mendampingi, tapi bagi kami, sebuah niat yang tulus akan menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Dan bagi kami gunung lebih dari sekedar tempat liburan ,melainkan tempat mencari kesungguhan, apakah bertambah keimanan ataukah bertambahnya kesombongan.

Jadi bukan masalah masih kecil atau sudah besar, tapi tentang kesiapan mental, kesiapan psikis nya, karena hakikat nya gunung adalah tempat beribadah para insan yang selalu bersyukur menikmati keindahan alam.

 Nah, mungkin ini adalah pengalaman pertama saya memulai sebuah pendakian, sebelum pengalaman pengalaman setelahnya.

Biasanya bagi pendaki pemula ketika pertama kali naik gunung adalah hal yang capek, hal yang melelahkan ketika sedang dalam perjalanan menuju puncak.

Tetapi ketika kita sudah sampai rumah, kenangan diatas gunung tak bisa dilupakan, malah menjadi rindu dan kemudian menjadi candu.

Jadi bagi sahabat semua yang membaca tulisan saya ini, terutama yang belum pernah mendaki, adakalanya harus mencoba memulai sebuah pendakian, dijamin bikin ketagihan.

Terimakasih sahabat semua telah membaca tulisan saya ini, tunggu kelanjutannya ya.

Dabith Sibghotullah Alumni UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Pendakian Gunung Ungaran

Kali ini saya berkesempatan melanjutkan tulisan dari postingan yang kemaren,jadi sahabat sekalian yang belum membaca post sebelum ini,silahkan bisa di baca,agar cerita nya nyambung,hehe,terimakasih...
Dabith Sibghotullah
4 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *