Dabith Sibghotullah Alumnus UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Sejarah Pembukuan dan Pengumpulan Alquran

6 min read

sejarah pembukuan alquran

Dalam sejarah pembukuan alquran yang sekaranh berada di tengah-tengah kita, telah melalui perjalanan panjang selama 1400 tahun hingga seperti yang sekarang.

Jaminan keasliannya telah Allah firmankan dalam Al Hijr: 9 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sebaliknya Kami benar-benar memeliharanya.”

Bangsa Arab pada awal Islam, sangat mengenal huruf, tidak mengenal baca, namun memiliki kekuatan hafal/daya ingat tingkat tinggi.

Dengan kekuatan daya ingat tersebut, mereka pakai untuk menghafal syair-syair dari para pujangga, silsilah nasab, peperangan yang terjadi di antara mereka, dan peristiwa-masalah penting lainnya.

Nah berikut adalah sejarah tentang pertama kali pembukuan alquran dilakukan. Selamat membaca.

Sejarah Pembukuan Alquran

sejarah pembukuan alquran
widiutami.com

“Ketika Rosulullah SAW wafat, Alquran masih belum dirangkum dalam satuan bentuk kitab”, demikian kata Zaid bin Tsabit, sekretaris Nabi saw. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Sejarah Teks Alquran (2005) karya Muhammad Mustafa Al-A’zami.

Alquran, yang merupakan kitab suci umat islam, memang tidak diturunkan dalam bentuk mushaf (lembaran) yang telah tersusun rapi.

Wahyu yang diturunkan kepada Rosulullah SAW juga tidak secara langsung dalam bentuk asli kitab suci yang telah siap dibaca.

Gagasan pembukuan Alquran datang belakangan, yaitu menurut sejarah pada era setelah Nabi saw wafat. Pasca pertempuran di Yamamah, banyak sahabat Nabi saw yang gugur di medan perang.

Sebagian besar dari mereka adalah al-qurra (para penghafal Alquran). Umar bin al-Khattab adalah sahabat yang pertama kali mengusulkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama dalam kepemimpinan Khulafaur Rasyidin.

Yaitu agar menghimpun hafalan-hafalan dan manuskrip-manuskrip dari para sahabat yang berisi Alqur’an supaya tidak hilang.

Penyusunan Alquran

sejarah peyusunan alquran
widiutami.com

Penyusunan Alquran pada masa Nabi saw, keberadaan wahyu terpelihara dengan baik lewat hafalan para sahabat dan manuskrip.

Menurut Taufik Adnan Amal, dalam buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (2005), keberadaan wahyu pada zaman Nabi saw terpelihara lewat tradisi hafalan dan tulisan yang berserakan.

Dalam kitab Fihrist karya Ibnu Nadim disebutkan tujuh sahabat Nabi yang menjadi al-qurra, seperti:

  • Ubay bin Ka’b
  • Mu’adz bin Jabal
  • Zaid bin Tsabit
  • Ali bin Abi Thalib
  • Sa’ad bin Ubaid
  • Abu ad-Darda
  • Ubaid bin Mu’awiyah

Sahabat Usman bin Affan, Tamim ad-Dari, Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qil, Ubadah bin Shamit, Abu Ayyub, dan Mujammi’ bin Jariyah juga tercatat sebagai penghafal Alquran. Selain dihafal, wahyu juga ditulis atas perintah Nabi saw kepada beberapa sahabat yang terpilih.

Media tulis yang dipakai untuk mengabadikan Alquran adalah:

  • riqa (lembaran lontar)
  • likhaf (batu tulis berwarna putih)
  • ‘ashib (pelepah kurma)
  • aktaf (tulang belikat unta)
  • adlla (tulang rusuk unta)
  • adim (kulit binatang)

Muhammad Mustafa Al-A’zami, dalam buku Sejarah Teks Al-Qur’an (2005), mencatat tidak kurang dari 56 sahabat ditugaskan oleh Nabi saw untuk menulis Alquran pada masa kehidupan di Madinah.

Setelah Nabi saw wafat (8 Juni 632), kepemimpinan umat Islam diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar ash-Shiddiq terpilih menjadi khalifah pertama yang mendapat amanat memimpin umat Islam untuk menyebarluaskan ajaran samawi paripurna ke seantero jagad.

Periode kepemimpinan Abu Bakar memang amat pendek, tetapi langkah-langkah politiknya cukup signifikan, yakni menaklukan gerakan-gerakan pembelotan dari kelompok yang berusaha membangkang dari ajaran Islam pasca meninggal Nabi SAW.

Dalam pertempuran di Yamamah, banyak sahabat Nabi yang gugur. Menurut Muhammad Mustafa Al-A’zami, perang Yamamah menjadi penyebab lahirnya gagasan kodifikasi Alquran yang masih berserakan dalam bentuk hafalan-hafalan di kalangan para sahabat.

Dalam pertempuran ini, banyak sahabat yang terdiri dari al-qurra gugur sebagai syuhada. Penggagas intelektual (intellektuelle urheber/shahib al-fikrah) pengumpulan Alquran adalah sahabat Umar bin Khattab, sebagaimana pendapat Mustafa Al-A’zami.

Namun, Taufik Adnan Amal, berpendapat bahwa sahabat Abu Bakar juga punya peran dalam pembentukan gagasan intelektual ini.

Adalah sahabat Zaid bin Tsabit, sekretaris Nabi saw, yang mendapat amanat untuk memimpin mega proyek penyusunan Alquran.

Umar bin Khattab mendapat posisi sebagai penasehat khusus dalam mega proyek ini. Setelah Zaid bin Tsabit menyelesaikan mega proyek di bawah pengawasan langsung dari khalifah, maka terbentuklah kompilasi Alquran pertama yang disimpan langsung oleh arsip negara.

baca juga: Kedudukan Alquran di Kehidupan Manusia

Mushaf Ustmani

mushaf ustmani
widiutami.com

Kompilasi Alquran pertama inilah yang kemudian disebut shuhuf (lembaran-lembaran). Dimungkinkan kompilasi Al pertama belum dijilid sehingga menggunakan kata shuhuf yang merupakan bentuk jamak dari kata tunggal shahifah.

Mushaf Usmani Setelah melewati periode kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kepemimpinan umat Islam diamanatkan kepada Usman bin Affan.

Dia termasuk salah satu di antara sahabat yang menjadi penghafal dan pencatat Alquran.

Pada masa kepemimpinan Usman, umat Islam hampir mengalami perpecahan akibat perbedaan bacaan dalam Alquran. Sebab, Alquran memang diturunkan dalam tujuh model dialek bahasa Arab (nuzila al-qur’an ‘ala sab’ati akhruf).

Adalah Hudaifah bin al-Yaman, panglima perang yang berhasil menyatukan kekuatan pasukan Irak dan Suriah, mendapati umat Islam berbeda bacaan dalam al-Qur’an.

Perbedaan tersebut semakin meruncing sehingga berpotensi memicu perpecahan di kalangan umat Islam. Kepada khalifah Usman, Hudaifah mengadu, “Wahai khalifah, ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Nasrani dan Yahudi.”

Membuat Tim Penyusun Alquran

tim punyusun alquran
sunflowords.com

Menyadari perbedaan bacaan di kalangan umat Islam bisa memecah persatuan, Usman bin Affan membentukan tim yang terdiri dari 12 orang, diketuai Zaid bin Tsabit.

Mereka bertugas mengumpulkan dan menabulasikan shuhuf-shuhuf yang tersebar di kalangan umat Islam.

Usman berusaha mewujudkan naskah mushaf independen yang dapat menyatukan umat Islam. Para sejarawan Muslim sepakat, bahwa peran shuhuf yang disimpan Hafsah, janda Nabi saw, sangat besar dalam proses pembentukan naskah mushaf independen ini.

Shuhuf yang berada di tangan Hafsah merupakan naskah resmi hasil kerja tim kodifikasi Alquran pada masa khalifah Abu Bakar.

Setelah tim 12 bekerja mengumpulkan dan menabulasikan shuhuf-shuhuf yang berserakan di kalangan umat Islam, Usman melayangkan surat kepada Aisyah, janda Nabi saw, untuk meminjam shuhuf yang disimpannya.

Khalifah melakukan perbandingan antara hasil kerja tim 12 dengan kandungan shuhuf yang disimpan Aisyah.

Dalam hal ini, tim 12 berhasil membenahi beberapa kesalahan dalam mushaf yang kemudian ditashih berdasarkan shuhuf milik Aisyah.

Belum cukup usaha perbandingan dengan shuhuf milik Aisyah, khalifah Usman meminjam shuhuf milik Hafsah untuk melakukan proses verifikasi.

Zaid bin Tsabit melakukan proses perbandingan dan verifikasi dengan baik. Setelah proses ini selesai, khalifah Usman merasa senang dan segera menyatakan agar umat Islam membuat duplikat dari mushaf tersebut.

Mushhaf yang dikerjakan oleh tim 12 dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dan di bawah pengawasan langsung khalifah Usman bin Affan itulah yang di kemudian hari dikenal dengan Mushaf al-Usmani.

Seluruh mushhaf Alquran yang beredar di seluruh dunia saat ini merupakan duplikat dari Mushaf al-Usmani.

Para Penulis Alquran

penulis alquran
minanews.net
  • Menurut laporan Ibn ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa jumlah penulis wahyu Nabi SAW. mencapai 23 orang.
  • Al-‘Iraqi bahkan telah menyatakan jumlah mereka 42 orang
  • Orang Arab Ketika Itu Belum Mengenal Kertas.
  • Istilah waraq digunakan untuk menyebut daun kayu.

Sedangkan qirthas digunakan untuk menyebut benda-benda yang digunakan untuk menulis, seperti kulit binatang (adim), batu tipis (lihaf), pelepah kurma (‘asab), tulang binatang (aktaf), dan lain-lain.

Al-Zarqani mengemukakan beberapa alasan:

  1. Umat Islam belum membutuhkannya karena para qurra’ banyak, hafalan lebih diutamakan daripada tulisan, alat tulis-menulis sangat terbatas, dan yang terpenting lagi, Rasul masih hidup sebagai rujukan utama.
  2. Alquran diturunkan secara berangsur-angsur selama kurang 23 tahun, dan masih mungkin ada ayat-ayat yang di nashakh oleh Allah SWT.
  3. Susunan ayat-ayat dan surat Alquran tidaklah berdasarkan kronologis turunnya.

Pada Tahun 11 H/633 M. Terjadi Perang Yamamah yang menewaskan 70 orang qurra’ dan huffadl.

Umar bin al-Khaththab mengkhawatirkan hilangnya sebagian suhuf akibat dampak gugurnya para sahabat qurra’ dan hufadl di medan perang.

Abu Bakar dan Umar mengutus Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan Alquran.

Zaid bin Tsabit ditunjuk untuk mengumpulkan Alquran oleh Abu Bakar dan Umar karena:

  • Termasuk barisan huffadl dan penulis wahyu yang ditunjuk Rasul SAW, terlebih lagi dia menyaksikan tahapan-tahapan Alquran diturunkan kepada Rasul SAW.
  • Terkenal cerdas, sangat wara’, amanah dan istiqomah

Metode Zaid bin Tsabit mengumpulkan Alquran:

  1. Hafalan yang tersimpan dalam dada para sahabat;
  2. Materi yang tertulis didepan Rasul SAW. dan materi tersebut tidak diterima kecuali dengan kesaksian dua orang yang adil

Pengumpulan Alquran dalam satu mushaf terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq atas saran dari Umar dan bantuan Zaid bin Tasbit.

Menurut al-Zarqani dalam Manaahil al-‘Irfan, ayat-ayat yang sudah di nasakh tidak lagi ditulis berdasarkan petunjuk Rasul saw. tetapi surat demi surat belum lagi tersusun sebagaimana mestinya

Berbeda dengan pendapat al-Qattan bahwa mushaf Abu Bakar sudah tersusun ayat-ayat dan surah-surah dan ditulis dengan sangat hati-hati.

Mushaf Alquran selanjutnya dibawa dan disimpan oleh Hafsah seorang istri Rasul saw. dan merupakan anak ‘Umar bin Khaththab

  • Motif Pengumpulan dan Penulisan Alquran:
  • Terjadinya perbedaan yang meruncing mengenai ragam bacaan. Karena mushaf pada masa Abu Bakar dapat dibaca dengan berbagai dialek.
  • Timbulnya perbedaan qiraat menyebabkan salih menyalahkan, bahkan mengkafirkan
  • Agar menyatukan umat Islam dalam satu qira’at maka Utsman melakukan pengumpulan dan penulisan Alquran

Pengumpulan dan penulisan Alquran pada masa Utsman bin ‘Affan yaitu:

  • Menggandakan tulisan yang sama yang telah dikumpulkan oleh Zaid ibn Tsabit pada zaman Abu Bakar. Dari tangan Hafshah, naskah asli Alquran digandakan menjadi beberapa eksemplar
  • Zaid ibn Tsabit ditunjuk kembali untuk melaksanakan tugas tersebut dibantu tiga orang dari suku Quraisy
  • Pembakaran mushaf yang lain, selain yang ada pada Hafshah dan duplikatnya, bertujuan untuk menyamakan mushaf, dan meninggalkan bacaan syadz serta tafsir-tafsir tambahan yang lain.

Tim Pengumpulan dan Penulisan Alquran:

tim penyusun alquran
widiutami.com

Sistem

Ketua: Zaid ibn Tsabit

Anggota:

  • Abdullah ibn Zubair
  • Sa’ad ibn Ash
  • Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam

Jumlah mushaf yang dibuat dan yang dikirim ke berbagai daerah:

  • Jumlahnya tujuh buah mushaf yang dikirim ke Makah, Syam, Basrah, Kufah, Yaman, Bahrain dan Madinah
  • Jumlahnya empat buah dikirim ke Irak, Syam, Mesir, dan Mushaf Imam, atau dikirim ke Kufah, Basrah, Syam, dan mushaf Imam. Pendapat lain mengatakan satu buah mushaf disimpan untuk dirinya sendiri
  • As-Suyuti berpendapat jumlahnya ada 5, inilah yang masyhur
  • Ibrahim Al-Ibyariy dalam Tarikhul Qur’an, Usman membuat 6 buah, dikirim ke Makkah, Syria, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah

Jam’ul Qur’an

Menurut Ahmad von Daffer, istilah pengumpulan Alquran (jam’ al-Qur’an) dalam literatur klasik mempunyai berbagai makna, antara lain:

  • Alquran dicerna oleh hati
  • menulis kembali tiap wahyu
  • menghadirkan materi Alquran untuk ditulis
  • menghadirkan laporan (tulisan) para penulis wahyu yang telah menghafal Alquran
  • menghadirkan seluruh sumber, baik lisan maupun tulisan

Rasm Mushaf

Abu al-Aswad al-Du’ali (69 H/ 688 M) memberi tanda-tanda baca atas Alquran.

  • Fathah diberi tanda satu titik di atas huruf.
  • Kasrah diberi tanda dua titik dibawah huruf,
  • Dammah diberi titik disela-sela huruf
  • Tanda suku berupa tanda dua titik

Akhir kata

Alhamdulillah, pembahasan tentang Sejarah Pembukuan Alquran telah selesai, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih telah membaca.

Dabith Sibghotullah Alumnus UICCI (United Islamic Cultural Center of Indonesia). Seorang pejuang Qur'an. Penikmat dunia perindu surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *